Jumat, 12 Agustus 2011

Bumi Rumahku


Rintik-rintik hujan mulai reda membasahi bumi. Daun-daun pada ranting pepohonan terlapisi air yang berwarna bening langit. Langit yang kini tergores warna biru nirmala. Bahkan terlihat mengagumkan dengan polesan tujuh warna pelangi.
Di sisi lain, burung-burung kecil terdengar lebih merdu kicaunya, bertengger di atas genting yang belum kering karena air hujan. Genting-genting yang sama betul rupa dan bentuknya. Warna hitam usang dan terbuat dari tanah liat. Bahkan beberapa dari rumah mereka tidak menggunakan genting sebagai atapnya. Namun, seng-seng bekas yang cukup kuat untuk menahan terik dan hujan. Tidak ada seberkas sinar yang menerawang ke dalam ruangan. Gelap dan pengap. Melainkan rembesan air hujanlah yang selalu menggenangi lantai yang masih berbau tanah pedesaan. Ya, walaupun mereka hidup di daerah perkotaan. Di atas pinggiran sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Tempat bagi kaum-kaum pinggiran.
Jalan-jalan setapak depan rumah masih tergenang air. Permukaannya sudah tidak lagi rata dan kering. Lumpur telah bercampur dengan debu-debu yang terkikis dari genting-genting. Guguran dedaunan dari pohon-pohon tua juga ikut tersapu air hujan. Namun, semua itu telah disambut dengan senyum dan tawa polos anak-anak. Langkah-langkah kecil yang ingin bermain dan berlarian dalam keceriaan dunia mereka. Dunia penuh imajinasi.
Terlihat sesosok lelaki tua keluar dari dalam rumah. Rumah yang terletak tidak jauh dari pohon besar yang berdiri kokoh di pinggiran sungai. Rumah sederhana yang sudah berdiri beberapa puluh tahun yang lalu. Sosoknya telah hadir di antara canda dan tawa anak-anak kecil yang sedang berlarian di depan rumahnya. Langkahnya tertatih-tatih menuju emperan rumah. Terlihat guratan-guratan keriput di wajah lelaki tua itu. Lelaki yang akrab disapa Mbah Mijan.
“Jangan lari-larian! Nanti jatuh.” Ujarnya kepada anak-anak yang sedang asyik bermain air.
“Tidak Mbah!”
“Lebih baik duduk sini sama Mbah! Mbah punya cerita bagus.”
“Hore. Hore. Cerita apa Mbah? Si Kancil dan Si Buaya ya, Mbah?”
Lalu langkahnya menuju kursi usang yang ada di depan emperan rumahnya. Seperti mendapatkan hadiah yang membuat hati mereka gembira. Anak-anak langsung menghampiri Mbah Mijan yang sudah duduk di kursi tuanya. Mereka langsung menyulap sandal mereka menjadi alas untuk duduk. Semua duduk tenang memperhatikan raut wajah tua Mbah Mijan yang akan mengisahkan sebuah cerita. Lelaki tua yang terkenal pandai mendongeng di perumahan pinggiran sungai itu.
“Sini duduk di pangkuan si Mbah!” pinta Mbah Mijan kepada salah satu anak yang bertubuh kecil.
“Dengarkan baik-baik cerita Mbah ya?” tambah Mbah Mijan. Anak-anak hanya menganggukan kepala dengan wajah polosnya. Rasa penasaran pun mulai menggelayut di raut wajah mereka.
“Mbah ingin bercerita tentang Si Ikan dan Si Ikal.” Tuturnya.
“Dahulu kala hiduplah Si Ikan yang tinggal di sungai. Dia menjaga sungai setiap hari. Dari merawat sungai, membersihkan sampah-sampah dan menjaga ketenangan sungai. Tapi suatu ketika Si Ikal datang. Saat itu dia merasa lapar sekali. Dia ingin memancing ikan di sungai. Setelah lama menunggu. Akhirnya dia mendapatkan sebuah ikan besar. “Saya bisa makan hari ini?” kata Ikal. “Saya mohon jangan makan saya. Jika kamu memakan saya, bencana akan datang.” Pinta Si Ikan menjelaskan. Ikal pun tidak memperdulikan perkataan Si Ikan. Dia membawa pulang ikan itu dan memakannya dengan lahap….”
Mbah Mijan menghela nafas sejenak.
“Terus apa yang terjadi, Mbah?” tanya anak-anak yang bertambah penasaran. Mbah Mijan hanya melempar senyum melihat wajah anak-anak yang tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.
“Semenjak kepergian Si Ikan dari sungai. Sungai menjadi keruh karena sampah-sampah bertumpuk memenuhi aliran sungai. Kehidupan yang ada di dalamnya pun mati karena kekurangan oksigen. Air terus bertambah keruh dan kotor karena tumpukan sampah-sampah. Saat hujan datang, terjadilah banjir yang merobohkan rumah-rumah yang ada di pinggiran sungai itu.” Jelas Mbah Mijan melanjutkan.
“Bagaimana dengan Si Ikal, Mbah?”
“Ikal pun menyesali bahwa perbuatannya salah. Dia pun mengajak warga untuk membersihkan sungai secara bergotong-royong. Sungai pun kembali bersih dan bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat.”
“Kasihan Si Ikan ya, Mbah?”
“Ya, jadi kalian tidak boleh membuang sampah ke sungai ya? Kasihan ikannya kan tidak bisa bernafas karena airnya kotor. Kalian harus menjaga sungai kita supaya tetap bersih dan tidak menimbulkan…?”
“Banjir Mbah!”
“Jadi, sampahnya harus dibuang di…?”
“Tempat sampah, Mbah. Tidak boleh di sungai.”
“Pintar cucu Mbah.”
*****
Air mengalir tenang dari sungai yang terletak di belakang rumah warga. Sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Semua aktivitas mulai dari mencuci, mandi bahkan memasak sekalipun. Semua tidak terlepas untuk memanfaatkan air yang sudah tidak lagi bening itu. Sampah-sampah tidak sedikit yang menutup wajah sungai yang dahulu jernih itu. Airnya telah berubah kuning kecokelat-cokelatan bercampur sampah yang terus dibuang warga ke sungai. Seakan tidak ada kepedulian dan kekhawatiran akan dampak dari air sungai yang sudah tidak layak digunakan. Namun, mereka masih menggantungkan hidupnya dengan pemakaian air dari sungai itu. Ya, lantaran air yang begitu mahal dan sulit diperoleh untuk mereka orang-orang pinggiran.
“Masih membuang sampah ke sungai, Bu?” tanya Mbah Mijan yang mendapati tetangganya membuang sampah ke sungai.
“Ya, Mbah. Bagaimana lagi, tidak ada tempat lain lagi untuk membuang sampah. Kan Mbah tahu sendiri, komplek kita ini sempit Mbah. Tidak ada lahan yang cukup untuk tempat pembuangan sampah. Rumah saja tidak seluas kandang kucing orang-orang kaya, Mbah.”
“Ya, kan bisa pakai tong-tong bekas untuk menampung sampah atau membuat galian lubang kecil di belakang rumah. Kita bedakan antara yang sampah organik dan anorganik. Nanti kalau sudah penuh bisa dibakar sampahnya. Kalau terus-terusan membuang sampah ke sungai bisa memperkeruh sungai. Kasihan anak-anak juga ‘kan bu jika terkena penyakit. Kalau musim hujan datang, bisa menyebabkan banjir juga ‘kan, Bu?”
“Itu sih urusan pemerintah, Mbah! Yang di atas yang harus menangani masalah itu. Apa gunanya pemerintah jika tidak bisa mengurusi rakyatnya?”
“Terus apa gunanya aturan jika rakyatnya sendiri masih melanggar, Bu? Kita juga jangan terlalu berharap pada pemerintah kan, Bu?”
Ibu setengah baya itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Mbah Mijan tanpa sepatah kata pun. Lalu pandangan Mbah Mijan tertuju ke arah sungai yang sudah tidak lagi bersih itu. Dihelanya nafas panjang melihat keadaan yang sudah berubah dari masanya dulu. Sungai yang menjadi saksi hidupnya kini telah berubah menjadi keluh kesah di masa tuanya. Tidak ada seroang pun yang peduli akan sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Justru setiap hari sampah terus bertambah banyak dan kian menumpuk. Bahkan tidak sedikit warga yang mendirikan jamban di pinggiran sungai. Sungai yang tidak hanya dimanfaatkan untuk mencuci dan mandi. Bahkan untuk bahan konsumsi oleh warga di pinggiran sungai itu.
Segala upaya telah dilakukan Mbah Mijan untuk menyadarkan warga, betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Terutama sungai yang kini menjadi sumber utama kehidupan bagi warga. Penyuluhan-penyuluhan yang pernah dilakukan Mbah Mijan selama ini pun belum bisa menyadarkan warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Seakan segala usahanya tidak ada yang membuahkan hasil. Namun, sifat ulet dan kegigihan dalam hatinyalah yang terus berkobar untuk terus mengingatkan warga agar menjaga sungai dan lingkungan sekitar.
Diusianya yang sudah senja, dia justru memiliki tanggungjawab besar sebagai orang yang dituakan di perumahan pinggiran sungai itu. Dia merasa memiliki andil besar untuk merubah warga yang berlaku salah dalam memperlakukan lingkungan.
Pagi itu, Mbah Mijan mencoba mengajak warga untuk membuat galian kecil di belakang rumah atau di tempat yang sekiranya kosong untuk dijadikan pembuangan sampah sementara. Beberapa orang pun melakukan apa yang diinstruksikan oleh Mbah Mijan. Namun, tidak sedikit pula yang menolak lantaran membuang-buang waktu mereka. Masih banyak dari mereka yang lebih senang membuang sampah ke sungai secara langsung.
*****
“Mbah? Mbah Mijan?” seru seorang warga dengan nada bicara agak panik. Mbah Mijan yang mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras langsung terbangun. Lalu diambilnya tongkat yang biasa menemani langkahnya. Jalannya tertatih-tatih menuju pintu depan.
“Ada apa, Le?” tanya Mbah Mijan.
“Mbah warga banyak yang terkena penyakit aneh. Anak-anak juga pada terkena diare, Mbah.”
“Sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Dibawa ke puskesmas, Mbah.”
“Ya, nanti mbah ke sana!”
“Iya, Mbah.”
Dari arah jalan raya, terlihat orang-orang sudah berkerumun memadati area puskesmas. Tua-muda dan lelaki-perempuan semua terlihat bercampur aduk dalam kegelisahan dan tangis, melihat anak-anak dan saudara-saudara mereka tergeletak lemas di ruangan yang ada di puskesmas itu. Perut mereka merasakan melilit kesakitan dan kulit mereka gatal bukan main.
“Mereka sudah mendapat perawatan?” tanya Mbah Mijan setibanya di puskesmas.
“Alhamdulilah, sudah Mbah. Kata dokter yang menangani, mereka terkena diare dan penyakit kulit, Mbah.”
“Iya, Mbah. Mungkin karena air sungai yang sudah tercemar itulah mbah penyebab dari semua ini.” Sahut yang lain.
“Mungkin semua salah kami tidak memperdulikan kata-kata, Mbah.” Tambah yang lain.
“Sudah tidak ada yang perlu disalahkan. Kita ambil hikmahnya dari peristiwa hari ini.” Tutur Mbah Mijan bijak dalam menanggapi permasalahan.
“Ya, Mbah.”
*****
Beberapa hari belakangan warga mulai sibuk dengan instruksi yang diberikan oleh Mbah Mijan untuk membuat tempat pembuangan sampah. Semenjak peristiwa kemarin, akhirnya warga sadar dengan dampak yang mereka timbulkan dengan membuang sampah ke sungai hingga mengakibatkan keruh dan tercemarnya sungai. Kini semua bergotong-royong dalam pembuatan galian di tempat-tempat kosong untuk tempat pembuangan sampah. Tong-tong bekas disulap menjadi tempat-tempat sampah. Dari sudut ke sudut perumahan ibu-ibu juga tidak mau kalah dengan bapak-bapak. Mereka membersihkan rumah dan menanam tumbuh-tumbuhan di emperan rumah mereka. Tapi semua itu tidak terlepas untuk mengembalikan kejernihan sungai kembali. Semua bergotong-royong untuk mengeruk sampah yang sudah menggunung di pinggiran sungai.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar