Selasa, 31 Mei 2011

Ilmu Seluas 7 Samudera




Langit malam tampak kusam. Rembulan tak bertengger di pojok langit sana. Bintang juga tak bersekutu malam ini. Sepi dan senyap bersemayam menguasai ruang. Angin berulang kali merangkas dedaunan yang sedang terlelap di malam hari. Kabut mulai menampakan diri. Udara dingin menjalar menusuk tubuh kecil yang tak berdaya di balik selimut. Menggigil kedinginan. Seakan rusuk sudah terinfeksi udara yang mematikan. Angin datang kembali dengan dahsyat dan lebih dahsyat menebarkan dinginnya hawa malam ini. Selimut tak lagi mampu menangkis keganasan malam. Dihempaskanya selimut yang sejak tadi membungkus tubuh yang sudah tua. Dan mulai membuka mata yang remang untuk menelusuri pintu kearah depan.
Di suatu ruang, duduk dua bayang yang sedang serius berdialog untuk mencapai kesepakatan. Wajah mereka tampak kecut, tegang, dan sedikit meluapkan emosi. Sementara tubuh perempuan yang baru beranjak dari kamar masih berdiri terheran-heran memandang dua lelaki yang saling pandang di ruang tamu. Dilihatnya jam dinding yang terletak tepat di atas mereka. Waktu menunjukan pukul 12.00 malam tepat. Sementara dari kejauhan kedua lelaki itu masih terdiam tanpa negosiasi. Peluh sedikit demi sedikit mulai tampak bergelayut di dahi mereka. Seakan menunjukan begitu dahsyatnya sidang diantara mereka. Hanya hening menyelimuti suasana ruang tamu kala itu. Sementara perempuan itu masih berdiri termangu. Sekali dirapikan penutup kepalanya. Dan beberapa menit kemudian terdengar obrolan singkat dari arah kedua lelaki di pojok ruang tamu. Negosiasi pun dilancarkan kembali.
“Boleh, Pak?”
“Tidak!”
Dan perempuan setengah baya bertubuh sedang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya tadi mulai menuntun langkahnya menuju tempat negosiasi itu berlangsung. Semakin dekat tubuhnya. Langkahnya kecil. Dan lebih dekat menghampiri lelaki yang sepantaran. Dan duduk disebelahnya.
“Ada apa ini, Pak? Ini sudah larut malam. Apa pembicaraanya tak  bisa dilanjut
besok?”
“Huhh, tak ada waktu, Bu! Keadaan terus memaksa. Dan semakin genting”
“Kenapa?”
“Aku ingin kuliah, Bu! Tapi…”
“Kenapa?”
“Tapi Bapak tidak setuju”
Lelaki yang sedang duduk di sebelah perempuan itu berbicara lantang.
“Kenapa Bapak tidak setuju. Anak kita ingin menuntut ilmu. Itu niat yang baik. Apa salahnya Pak?”
“Ini bukan masalah salah atau benar. Tapi dari mana kita dapat uang yang tak sedikit untuk kuliah. Biaya kuliah sekarang semakin mahal, Bu. Belum lagi kita mesti melanjutkan sekolah adiknya juga. Kebutuhan untuk makan sehari-hari saja kita mesti ngutang, Bu. Bapak malu kalau ketemu Pak Kosim, hutang kita numpuk, Bu. Apa yang dapat kita gadai? Apa yang mesti kita harapkan dari ladang gersang tak ada isi? Apa yang dapat kita tukar dengan panci-panci usang? Semua sulit untuk kita, Bu”
“Ternak?”
“Tak akan Bapak jual. Itu harta satu-satunya yang masih tersisa”
“Tapi Pak, Ipul akan cari kerja…!”
 “Kerja apa? Mereka butuh sarjana. Kamu? Mending kau pergi ke pondok. Di sana kau juga bisa menuntut ilmu. Lebih dari yang kau cita-citakan. Lebih dari yang kau harapkan selama ini. Dan kau tak akan menyesal nantinya”
“Tapi Ipul tak bisa Pak. Apa yang dapat ipul harapkan setelah keluar dari sana? Mereka butuh sarjana. Dan Ipul akan membahagiakan keluarga nantinya, dengan gelar yang telah Ipul dapatkan”
“Kau belum coba. Di sana kau tak cuma dapatkan ilmu, Pul. Kau juga akan dapatkan didikan moral, akhlak, dan agama. Sekarang yang kita harapkan dari dirimu, kau bisa menjadi panutan yang baik dan tak akan lupa Tuhanmu. Allah SWT. Itu yang kita harapkan, tak lebih!”
“Ipul ingin kuliah Pak. Titik”
“Dan bapak ingin kau mondok. Titik”
Braakk!!!
Suara keras benturan kursi ikut meramaikan pembicaraan di antara mereka. Dan lelaki setengah baya itu langsung pergi meninggalkan pembicaraan tanpa memberikan titik terang kepada Ipul. Pada negosiasi yang sejak tadi diluncurkan.
Tik, tik, tik!!!
Dentang jarum jam menambah sunyi di tengah tatap muka Ipul dan Ibunya. Tanpa ada obrolan menyelinap. Keduanya diam terpaku. Dan waktu terus berjalan sampai larut. Angin di luar terdengar ramai meniup pepohonan kering. Daun-daun berguguran diterpa angin dan jauh pergi ke tempat kosong. Sementara di ruang tamu tetes air mata perlahan bergelayut membasahi pipi. Harapan seakan nyata akan sirna dan tinggal menunggu waktunya tiba.
“Pul, laksanakanlah titah bapakmu. Ipul tahu ‘kan, kami sayang Ipul. Kami berharap pada Ipul. Tapi ibu juga tak paksa”
“Bu!”
“Pul, lihatlah tetangga kita yang juga bisa sukses setelah keluar dari pondok. Pak Ali dulu juga dari pondok. Dan kini beliau sukses menjadi pemuka agama. Hj. Sri sukses menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Dan Rahmat, dia juga seusiamu, tapi dia sudah mahir berbahasa Arab dan kitab. Tapi Ibu tak memaksa. Pikirkanlah!”
Perempuan itu juga pergi meninggalkan kesunyian di ruang tamu. Perlahan bayangnya sudah lenyap di telan waktu. Pijak langkahnya sudah tak terdengar lagi. Kini malam bertambah semakin sunyi dan senyap. Angin berulang kali terdengar berlarian di luar sana. Daun-daun menjerit kesakitan karena belum musimnya merangkas diri. Bahkan jejak gugurnya tak tampak di permukaan. Semua hilang bak ditelan waktu. Angin ganas.
Di sebuah ruang yang tak jauh dari keasingan tadi, dua mulut sedang beradu melanjutkan negosiasi yang belum mencapai titik akhirnya. Suasana ruangnya sedikit remang. Lampu kecil tahun lalu tak cukup menerawang wajah mereka. Bahkan emosi bisa berubah seketika. Tak ada yang tahu permainan hati. Pembicaraan berlanjut.
“Pak jangan terlalu keras pada anak. Itu bukan didikan yang baik”
“Bapak gagal Bu menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak sudah gagal mendidik anak sesuai yang Allah harapkan. Bapak tak mampu memenuhi keinginan mereka. Apa yang mesti bapak perbuat lagi, Bu? Butuh berapa kali lagi Bapak adukan hati ini pada-Nya?”
“Bapak tak gagal. Bapak sukses. Ini hanya masalah nasib. Tapi kita juga tak bisa menyalahkan nasib. Nasib itu dari Allah. Dan Allah percaya kepada kita Pak untuk mendidik mereka dengan baik. Mendidik anak kita dengan agama. Langkah bapak sudah benar”
“Ibu setuju Ipul mondok?”
“Berilah penjelasan kepada Ipul dengan sabar”
“Ya Bu. Semoga Ipul tahu maksud Bapak”
Waktu terus berjalan dan berjalan terus!
Pergulatan malam yang panjang sudah berakhir. Angin hanya beberapa kali mencumbui dedaunan dan akhirnya lenyap sudah. Kini waktu telah berganti. Sunyi tak lagi menguasai dan senyap tak lagi merasuk dalam mimpi. Di ufuk timur sana sang empunya pagi sudah tersenyum lebar menyapa alam yang permai. Tanpa kesunyian. Kini waktu terbuka baru. Dan hangat nurnya mencairkan luka. Pengobat keganasan angin malam tadi.
Di halaman depan terlihat lelaki setengah baya yang semalam sedang bergulat dengan  hati, kini dia asyik dengan peralatan ladangnya. Sesekali dicobanya pada tanah rerumputan di depanya.
“Pak ngopi dulu!”
Terdengar sang istri menyuguhkan minuman untuk melepas kepergianya ke ladang. Lelaki setengah baya itu pun membalas dengan senyum simpul. Di taruhnya peralatan yang setiap pagi setia menemaninya berladang. Dan perlahan dihampirinya suguhan istri tercintanya. Kopi pun siap mengisi tenggorokkanya.
“Alhamdulillah. Ibu memang mengerti selera Bapak. Andai anak-anak kita tahu, Bu!”
“Sudahlah, Pak! Ayo dihabiskan kopinya, Pak!”
“Ipul mau pak”
Sekejap sesosok Ipul menyelinap di tengah-tengah mereka.
“Pak Ipul sudah pertimbangkan keputusan semalam. Akhirnya Ipul sadar pendidikan agama lebih penting untuk Ipul Pak. Penting untuk kedepanya kehidupan Ipul. Ipul juga sadar Bapak dan Ibu berharap pada Ipul sepenuhnya. Dan Bapak tak gagal menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak telah sukses”
Mereka terbengong-bengong mendengar keputusan Ipul untuk pergi ke pondok. Lelaki setengah baya itu seketika meletakan cangkir kopinya. Dan mengarahkan langkahnya menuju tubuh Ipul. Senyum tampak menghiasi wajahnya yang semakin dipenuhi guratan.
“Bapak senang mendengar itu, Pul. Maaf Bapak tak mampu mewujudkan cita-citamu. Tapi Bapak berharap kau bisa mewujudkan cita-citamu kelak setelah dari pondok. Ya ‘kan. Bu?”
“Ya pak. Ibu juga bangga pada mu Pul”
“Justru Ipul bangga pada Bapak dan Ibu. Bapak dan Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk Ipul. Dan Ipul akan mewujudkan cita-cita Bapak dan Ibu, supaya Ipul menjadi orang sholeh. Semoga Ipul menjadi orang yang berguna kelak untuk keluarga dan semuanya”
“Amin”
Waktu akan terus berjalan dan berjalan terus! Dan hari tak akan sepi untuk ilmu yang Dia ridhoi.
……………………………………………………………………..







22.29, 2 Juni 2010
Radindra Rahman

Kupu dan Burung di Langit Sana (Mahkota Perawan)



 

Lihatlah kupu dan burung di langit sana
Saling mengitari taman-saling berdampingan
Angin sunyi tak berani mengusik kemesraan mereka
Matahari rela padamkan nurnya seketika
Langit cerah menaungi kasih mereka
Tak ingin berpaling pada keindahan lain
Di pojok sana
Lihatlah sayang, lihat!
Yang aku ingin dahulu seperti mereka
Kita saling cinta-saling setia
Dan jangan kau lepaskan burung itu kelain sarang
Cukuplah dan cukuplah!
Hanya berdua kita rajut kasih
Yang indah
Kasih yang Dia ridhoi
Kita ikrarkan cinta ini kelak
Kala Dia pertanyakan:
Ketulusan, kesetian, dan kepastian
Dari cinta
Kita berdua
Dan mahkota perawan masih utuh pada wadahnya
Pada ikrar yang akan aku serahkan
Nantinya

Lihatlah kupu dan burung di langit sana
Akhirnya kandas karna waktu juga.












14.10, 29 Mei 2010
Radindra Rahman

Perempuan Penjual Dawet



Namanya Kana, seorang janda yang kini hidup dengan kedua anaknya. Dia menjanda sudah sekitar lima tahun. Kini dia harus berperan menjadi orang tua tunggal untuk kedua anaknya. Namun, kegigihannya membuat perempuan yang satu ini menjadi perempuan yang tangguh dalam menjalani kehidupan. Apalagi harus menghidupi kedua anaknya seorang diri.
Kepergian sang suami -karena penyakit liver- sungguh membuat hati perempuan yang akrab disapa Kana ini jelas terpukul. Istri mana yang rela menerima kepergian sang suami yang dicintainya dengan begitu cepat? Yang sudah mengarungi kehidupan rumah tangga bertahun-tahun demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Seakan airmata itu tidak bisa menetes membasahi pipinya. Kesedihan itu seolah tertahan dalam hatinya. Hanya dia yang tahu betapa hancur dan terpukul hatinya waktu itu. Dia mencoba ikhlas akan takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Mungkin dia bisa mencoba mengikhlaskan kepergian sang suami walau dengan berat hati. Tapi bagaimana dengan perasaan anak-anaknya? Di usia mereka yang masih belasan tahun, yang masih membutuhkan sesosok kedua orang tua, kepergian sang ayah sungguh membuat mereka harus kehilangan kasih sayang dari sosok seorang ayah.
Semenjak kepergian sang suami, Kana-lah yang harus menggantikan perjuangannya. Ya, apalagi kalau bukan untuk berjualan dawet. Semua itu, dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya, dan mencurahkan kasih sayang lewat tetes peluhnya. Setiap pagi menjelang shubuh, dia harus segera bersiap-siap untuk menyiapkan segalanya. Baik menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, mengerjakan pekerjaan rumah maupun membuat dawet hingga menatanya di gerobak yang kini menjadi tempat aduannya. Gerobak kayu warna hijau yang menjadi peninggalan terakhir dari sang suami. Gerobak yang dulu menjadi saksi bisu betapa gigihnya sang suami dalam mencari nafkah untuk dia dan kedua anaknya. Namun, semua itu telah menjadi kenangan masa lalunya. Kini dialah yang harus menggantikan posisi suaminya untuk menghidupi kedua anaknya.
Setiap pagi, Kana harus mendorong gerobak dawet itu menuju pasar yang berjarak sekitar ratusan meter dari rumahnya. Sungguh jarak yang terbilang fantastis untuk ukuran perempuan setengah baya seperti dirinya. Apalagi ukuran tubuhnya yang kecil dan memang saat itu dia sedang menderita penyakit ambien. Bisa dibayangkan bagi penderita ambien yang melakukan pekerjaan seperti itu. Mungkin akan memperparah kondisinya. Tapi bagi Kana hal itu tidak mungkin dia eluh-eluhkan, karena semua itu dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya. Hanya dia seorang yang kini menjadi tumpuan harapan untuk masa depan anak-anaknya kelak. Ya, sebagai orang tua tunggal yang posisinya harus menjadi ayah dan sekaligus ibu untuk mereka.
Bertahun-tahun dia berdagang dawet di pasar dan terkadang di sekitar rumahnya. Memang penghasilannya dari berjualan dawet tidak seberapa. Apalagi jika kondisinya lagi sepi. Bahkan tidak bisa mengembalikan modal untuk berjualan besok. Penghasilannya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Baik kebutuhan sehari-hari maupun biaya pendidikan kedua anaknya. Namun, dia tidak berputus asa begitu saja. Dia sadar rezeki sudah ada yang mengatur. Dia akan terus berusaha mencari nafkah untuk kedua anaknya.
Jika menilik dari kehidupannya yang dulu, saat suaminya masih hidup, sungguh sangat memperihatinkan kondisi keluarganya. Bagaimana tidak, hidup di rumah yang dulu masih terbilang kecil dan sederhana. Bahkan genting dan papannya yang sudah tidak layak pakai. Ruang-ruang yang sempit dan kondisi yang serba pas-pasan. Membuat dia dan keluarganya hanya bisa sabar dan terus berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup. Mungkin dalam benaknya, dia juga ingin memiliki rumah yang layak seperti tetangga-tetangganya. Yang notabenenya serba kecukupan. Namun, perjuangan yang tidak ada hentinya membuat perubahan dalam hidup mereka. Setidaknya mereka bisa merenovasi rumah untuk kenyamanan anak-anak mereka juga.
Hampir setiap hari, Kana tidak hanya mendorong gerobaknya untuk menjajakan dawetnya. Tapi lebih dari itu, dia juga harus mengurusi pekerjaan rumah. Bertahun-tahun seakan tidak ada rasa mengeluh dalam hatinya dengan berjualan dawet. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang? Mungkin dalam hatinya, dia juga ingin terlepas dari beban hidup yang dirasa sangat kurang dan serba dalam kekurangan. Mungkin dia juga merasa iri saat melihat pasangan keluarga yang hidup utuh. Didampingi sang suami yang bisa diajak bercanda dan mencurahkan keluh-kesah kepenatannya. Sementara, dia masih bergulat dengan hidupnya yang akan terus berjualan dawet. Tapi dia sadar, dia harus terus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Di samping itu, kasih sayang juga harus dia curahkan kepada anaknya. Karena dia sadar, kini tinggal dialah orang tua yang bisa membimbing mereka, memberi pengarahan, dan selalu mengayomi mereka sebagaimana mestinya tugas orang tua. Dia juga tidak ingin kedua anaknya kelak bernasib seperti dia. Harapan itu pun ada, berharap anaknya kelak bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan orang tua.  Betapa tidak berharganya, saat orang tua tidak bisa memberi kebahagiaan kepada anak-anaknya. Mungkin hal itu juga pernah dia rasakan, saat dia tidak bisa memenuhi permintaan anak-anaknya.
Kondisi tubuhnya yang sering sakit-sakitan membuat dia sempat menghentikan berjualannya beberapa hari. Ya, karena penyakit ambiennya kambuh lantaran terlalu sering melakukan pekerjaan yang berat. Terkadang untuk menghemat tenaga, dia berinisiatif untuk berjualan dawet di rumah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah kondisi badannya sudah dirasa enakkan, dia lekas melakukan aktivitasnya untuk berjualan dawet di pasar. Dari kegigihannya bekerja keraslah, sampai akhirnya dia bisa membuka warung kecil-kecilan di rumah. Memang dari awal berjualan hanya sedikit barang yang dijual. Hanya sekadar minuman dan makanan ringan untuk tetangga-tetangganya. Tapi lambat laun, usahanya pun mengalami peningkatan yang cukup baik. Hingga sampai sekarang dia bisa memenuhi warungnya dengan beragam jajanan dan kebutuhan dapur untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya.
Itulah sedikit kisah yang bisa saya bagikan kepada Anda dari kisah seorang perempuan penjual dawet, Kana. Dengan kegigihan dan kesabarannyalah, kini dia bisa menikmati jerih payah kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Walaupun dia hidup sebagai seorang janda, hal itu tidak menyurutkan semangat hidupnya. Karena kehidupan yang terbaik adalah kita bisa menjalaninya dengan rasa syukur dan tidak mudah berputus asa.

Menulis adalah Perjuangan Kata


Menulis itu susah. Menulis itu buang-buang waktu. Menulis itu pekerjaan orang-orang kuper. Menulis itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berbakat.
Apa teman-teman juga berpikir seperti itu? Jangan pernah mengatakan bahwa menulis itu susah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki bakat menulis. Sebelum Anda mengatakan hal itu, cobalah untuk menanamkan niat dan semangat untuk benar-benar mencapai titik kesuksesan untuk ke depannya. Semua itu terasa sulit hanya untuk orang-orang yang tidak memiliki semangat dalam hidupnya dan mudah berputus asa jika mengalami kegagalan di tengah jalan. Atau merasa pesimis dan kurang percaya diri jika disandingkan dengan karya-karya penulis yang sudah mumpuni di bidangnya. Hal itu hanya akan membuat teman-teman berkecil hati dan merasa tidak mampu untuk terjun ke dunia kepenulisan. Semuanya akan terbantahkan! Apabila Anda menanamkan niat dan memiliki semangat yang tidak mudah luntur walau diterpa badai besar sekali pun. Semua itu butuh proses, bukan?
Sedikit kisah yang bisa saya bagikan kepada teman-teman tentang perjuangan saya menulis sampai pencapaian saat ini. Apa yang memotivasi dan menginspirasi saya untuk menjadi seorang penulis dan tertarik menggeluti dunia kepenulisan. Saya tertarik menulis sejak keseringan saya membaca karya-karya fiksi (novel, cerpen, puisi, drama dan lain sebagainya), terutama karya-karya dari Si Binatang Jalang; Chairil Anwar. Sajak-sajak puisinya seakan memberi magnet tersendiri di hati.
Saat itu saya duduk di bangku kelas dua Madrasah Tsanawiyah Nurul-Qur’an. Saya yang memiliki hobi membaca, tidak pernah luput dengan yang namanya melahap buku-buku apapun yang ingin saya baca. Apalagi yang namanya buku-buku fiksi yang membuat saya nyaman saat membaca buku itu. Walaupun saat itu saya hanya bisa membaca buku-buku itu dari perpustakaan, lembaran-lembaran dalam buku pelajaran dan buku-buku yang saya pinjam dari teman-teman. Karena membeli buku-buku seperti itu bagi saya terasa berat, karena uang saku yang masih meminta dari orangtua. Jadi, hanya bisa menikmati buku-buku dengan meminjam atau jalan gratisan. Dari keseringan membaca karya-karya fiksi itulah ada ketertarikan saya untuk menulis. Awal mula saya menulis dalam bentuk puisi-puisi. Masih dalam taraf penyusunan kata-kata yang ambur adul. Karena waktu itu saya belum tahu betul bagaimana menulis puisi dengan baik dan benar. Hanya yang ada dalam perasaan dan pikiran akan saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Apapun itu!
Waktu itu belum ada peralatan yang mendukung untuk menulis, seperti komputer, laptop atau mesin ketik. Saya menulis hanya bermodalkan kertas-kertas kosong dan bolpoin yang membuat saya terus menggoreskan kata demi kata dalam tulisan saya. Karena niat untuk menjadi seorang penulis begitu menggebu-gebu dalam hati.  
Setiap hari tanpa mengenal lelah, saya terus menggoreskan pena di kertas-kertas kosong. Hingga yang namanya puisi itu bertambah banyak yang saya hasilkan setiap hari. Entah itu bisa disebut puisi atau tidak! Saya tidak memperdulikan hal itu. Dalam pikiran saya yang terpenting adalah terus menulis dan menulis tanpa mengenal kata menyerah. Akhirnya setelah terkumpul banyak puisi. Saya mempunyai keinginan untuk menerbitkannya. Semua penerbitan buku saya cari dan telusuri dari berbagai sumber. Baik itu dari buku-buku maupun dari internet. Bahkan saya sempat menghubungi salah satu penerbit yang memang menyediakan ruang untuk sebuah karya fiksi. Setelah mendapatkan informasi yang cukup mengenai penerbitan dan tata caranya, saya mulai berani untuk menerbitkan karya saya. Namun, sebelum melakukan hal itu, tentunya saya harus mengoreksi karya-karya saya terlebih dahulu. Apakah layak untuk diterbitkan atau tidak? Itulah yang menjadi pertanyaan.
Akhirnya saya meminta bantuan teman-teman sekelas untuk memberikan kritikan terhadap karya saya. Saat mereka bilang bagus hal itu membuat saya sangat bahagia. Namun, tidak sedikit yang mengatakan karya saya buruk atau jelek. Hal itulah yang membuat saya pesimis dan mengurungkan niatan saya untuk menerbitkannya. Ambisi yang awalnya menggebu-gebu itu saya urungkan untuk menanti waktu yang tepat untuk menerbitkan karya saya. Namun, saya tidak patah arang begitu saja. Justru waktu itu, saya semakin berambisi untuk menjadi seorang penulis. Saya yakinkan pada diri saya bahwa suatu saat nanti saya akan menjadi seorang penulis yang mumpuni dan bisa membahagiakan kedua orangtua saya dengan karya-karya saya. Oleh karena itu, saya tidak akan pernah berhenti untuk menulis dan akan terus memperbaiki karya-karya saya.
Menginjak kelas tiga akhir, tulisan-tulisan saya semakin banyak dan menumpuk. Terutama dalam bentuk puisi. Bahkan ada penerbit yang menawarkan untuk menerbitkan karya saya. Tapi karena masih tidak begitu tahu dunia penerbitan seperti apa. Akhirnya saya menolak untuk menerbitkan karya saya terlebih dahulu. Karena masih banyak yang perlu saya perbaiki dari tulisan-tulisan saya.
Saat duduk di bangku perkuliahan. Saya sempat menghentikan aktivitas saya menulis untuk sementara waktu, karena tugas kuliah yang cukup padat. Tapi ada salah satu dosen saya yang saat itu juga seorang penulis. Saat beliau mempromosikan karya-karyanya, saya pun begitu tertarik untuk mulai lagi menggeluti dunia tulis menulis. Ambisi itu pun mulai kembali dalam hati. Dari beliaulah saya menjadi termotivasi untuk bangkit kembali. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai menulis buku dan tidak cukup hanya itu. Saya harus bisa menerbitkannya. Kemudian saya mengajak seorang teman yang memang memiliki hobi yang sama dengan saya, yaitu menulis. Namanya Nurlinda Indah SN. Kami berdua berencana untuk membuat antologi puisi. Setelah naskah selesai kami buat. Hal yang membuat kami hampir putus asa adalah mencari penerbit yang memang menyediakan ruang untuk naskah puisi. Ya, seperti yang kita ketahui, tidak banyak penerbit yang mau menerima naskah puisi bahkan hampir tidak ada. Segala macam penerbit sudah kami cari dan kami hubungi satu per satu. Namun, hasilnya nihil. Mungkin saya tidak bisa menjadi seorang penulis. Kata-kata semacam itulah yang selalu memenuhi pikiran saya waktu itu. Namun, Nurlinda terus memberi semangat kepada saya dan meyakinkan bahwasanya masih ada jalan yang Allah berikan jauh lebih baik daripada hari ini.
Beberapa hari saya terus berusaha mencari penerbit. Namun, hasilnya sama; nihil. Akhirnya saya bertanya-tanya kepada teman penulis di jejaring sosial facebook. Mereka menyarankan untuk menerbitkan karya kami melalui indie. Segera kami mencari informasi-informasi mengenai penerbitan buku dengan cara indie. Saya dan Nurlinda pun sepakat untuk menerbitkan buku kami ke penerbit indie. Walaupun buku pertama saya melalui penerbitan indie, tapi hal itu cukup membuat saya senang. Namun, target saya tetap ada untuk membuat karya yang bisa diterima di penerbit nasional.
Untuk mengasah kemampuan, saya pun mencoba mengikuti perlombaan-perlombaan  yang ada di dunia maya. Terutama di jejaring sosial facebook. Berturut-turut pun naskah saya tidak lolos dalam perlombaan itu. Perasaan kecewa pun ada, tapi saya mencoba mengambil hikmah dari semua itu. Saya menjadikan hal itu pengalaman dan proses kedewasaan agar bisa membuat karya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Satu perlombaan yang membuat saya bisa bernafas lega adalah saat cerita saya masuk seratus besar di Indie Publishing yang mengangkat tema “Scary Moment”. Saya tidak menyangka cerita saya bisa masuk dalam perlombaan itu. Ternyata harapan itu tidak sia-sia. Semenjak itu, saya kukuhkan ambisi untuk menjadi seorang penulis.
Ada beberapa buku yang sampai kini masih memotivasi dan menjadi inspirasi saya untuk terus menanamkan ambisi saya itu. Ya, salah satu buku dari Ari Kinoysan Wulandari yang berjudul “Jadi Penulis Fiksi! Gampang, Kok!”. Semenjak membaca buku itu, banyak inspirasi yang saya dapatkan dari kisah si penulisnya sendiri. Dan kini, saya memberanikan diri untuk mengajak teman-teman kampus dalam penyusunan antologi cerpen. Entah mereka memiliki hobi menulis atau tidak, saya tidak memperdulikan hal itu. Yang saya inginkan adalah mereka bisa menulis untuk diri mereka sendiri atau bahkan untuk orang lain. Bahkan saya tidak menyangka, saya yang perlu motivasi dan inspirasi dari orang lain, justru teman-teman saya sendiri termotivasi karena saya. Alhamdulilah, itulah yang bisa saya ucapkan. Akhirnya perjuangan saya selama ini tidak sia-sia. “Human proposes, God disposes”. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Sebaris kalimat yang masih  saya pegang sampai saaat ini. Karena kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan apapun yang ingin kita gapai. Namun, jika Tuhan belum berkehendak, kita sebagai seorang hamba hanya bisa ikhlas, sabar dan tawakal kepada-Nya. Karena kehidupan itu adalah proses yang tidak bisa kita duga dan tidak bisa kita diramalkan. Namun, kita di dunia hanya bisa menjalani seperti apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Jadi, untuk teman-teman jangan pernah mengatakan menulis itu susah. Mulailah dari sekarang untuk mempersiapkan diri menjadi seorang penulis. Yakinlah tindakan yang nyata akan mengiring kesuksesan, tentunya disertai dengan niat dan semangat yang tidak akan pernah padam.

Jumat, 27 Mei 2011

Mas, Siapa Wanita itu?


Ini sudah menginjak hari ke tiga Astuti menjalani kehidupan baru dengan Effendi. Hubungan yang masih terasa hangat-sehangat jamuan teh manis di pagi hari. Semanis balutan madu yang menemani di setiap lelap mimpi mereka. Mimpi yang terukir berdua untuk mewujudkan keluarga yang langgeng sampai akhir hayat. Keluarga yang penuh cinta dan kasih yang tak akan pernah pupus oleh sang waktu. Bahkan akan abadi sepanjang perjalanan hidup.
Cinta di antara mereka tak memerlukan waktu lama untuk menyatukannya dalam ikatan sakral pernikahan. Cinta yang tak dimiliki oleh sepasang kekasih muda-mudi sepantaran mereka. Cinta itu tumbuh begitu cepat dan telah menumbuhkan benih-benih kasih di antara mereka. Cinta yang pada hakikatnya suci dan terlahir untuk memuliakan derajat makhluk-makhluk-Nya.
Pagi itu, pada langit yang masih terlihat sayu. Pada embun-embun putih yang masih membasahi klorofil. Dan burung-burung kecil yang bersiul pada dinginnya angin yang masih terasa menusuk rusuk. Terlihat Astuti keluar dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh hangat untuk Effendi di teras depan. Effendi nampak sedang memanasi motornya yang akan dibawanya pergi kerja. Astuti nampak tersenyum melihat suaminya yang begitu semangat untuk bekerja di pagi hari.
“Mas, nge-teh dulu!” ujar Astuti dengan nada lembut.
“Sayang sudah bangun?” ujar Effendi. Lekas dia menghampiri istrinya yang masih berdiri dengan membawa secangkir teh hangat. Kemudian diciumnya kening istrinya sebagai tanda kasih sayang yang melebihi hangatnya mentari pagi. Sinarnya yang tak bisa menandingi hangatnya jamuan istri kepada suami di pagi hari.
“Heemm… istriku memang pandai soal memanjakan suami. Teh bikinanmu sungguh nikmat, Dik!” Ujar Effendi memuji-muji istrinya. Karena dia tahu, suami yang baik harus memuji istrinya atas kesetiaan yang telah diberikan. Astuti hanya tersenyum malu mendengar pujian dari suaminya itu. Dia cubit manja lengan suaminya.
“Sudah resmi mengajar hari ini, Mas?” tanya Astuti.
“Iya. Kepala sekolah meminta mas untuk mengajar hari ini juga. Sekaligus menggantikan Bu Harti yang tak bisa mengajar untuk sementara waktu.” Jelas Effendi.
“Mas minta do’anya, Dik. Inikan pertama kalinya mas mengajar. Wisuda baru beberapa hari kemarin. Jadi, butuh persiapan yang lebih matang untuk menghadapi pola pikir anak-anak yang berbeda-beda. Mas juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolahan.” Tambah Effendi.
“Astuti yakin mas bisa. Gelar mas itulah yang sudah membuktikan mas layak dan mampu untuk mengabdikan diri. Astuti akan selalu mendo’akan, Mas!”
Lalu untuk kesekian kalinya Effendi mencium kening istrinya kembali. Jamuan pagi itu telah menambah kehangatan pasangan yang baru seumur jagung. Bahkan masih seperti  remaja yang sedang dimabuk asmara.
“Bau ah Mas. Mandi dulu. Astuti sudah bikinin nasi goreng kesukaan Mas.”
“Pake telur ‘kan?” tanya Effendi manja.
“Iya, tapi telur puyuh.” Canda Astuti.
“Wah, kekecilan Dik.”
Keduanya saling tertawa dalam kehangatan kasih yang telah memecah langit sayu. Dari celah-celah ranting pepohonan sinar hangat sang empunya pagi telah tercipta begitu indah. Cahayanya telah mengikis embun-embun dari dedaunan.
*****
“Effendi?” sapa Ririn; teman Effendi.
“Ririn? Kamu ngajar di sini juga?”
“Iya, kok bisa kebetulan gini ya? Wah, jodoh nie!”
“Eh, jangan menggoda saya lagi ya. Sudah ada yang punya nie.”
“Kan di rumah. Di sini punya banyak orang, bukan? Termasuk saya.”
“Kamu memang masih seperti dulu, Rin. Masih suka bercanda saja. Gimana kabarmu?”
“Alhamdulilah, baik. Kamu sendiri? Istri?”
“Alhamdulilah.”
Obrolan pun berlangsung dengan hangat sembari melepas kerinduan seorang sahabat lama. Hingga waktu mengajarlah, mereka harus menghentikan gelak tawa yang sudah lama tak terjalin seperti suasana pagi itu. Mereka harus bersikap profesional dalam mengajar. Semua demi dedikasi mereka untuk dunia pendidikan.
“Ada waktu, Fen? Ayo kita makan siang bareng!” Ririn menawarkan.
“Sepertinya gak bisa, Rin. Astuti sudah menunggu di rumah.”
“Iya, iya, saya paham betul! Mentang-mentang sudah punya istri yang setia duapuluh empat jam. Sekarang tega menolak ajakan teman sendiri ya!”
“Bukan begitu maksud saya, Rin. Tapi… tahu sendiri ‘kan, gak enak kalau kita jalan berdua. Sekarang posisinya beda. Saya takut menimbulkan fitnah. Saya gak ingin Astuti salah paham kepada kita. Mohon pengertiannya.”
“Sama teman seprofesi sendiri, Fen? Okay, saya mengerti maksud kamu.”
“Maaf ya Rin! Tapi terima kasih atas tawarannya loh.”
“Hari minggu depan, gimana? Masak kamu masih menolak tawaran temanmu sendiri? Ajak juga istrimu!”
“Akan saya usahakan. Tapi saya gak janji.”
*****
Hari demi hari perjalanan cinta Astuti dan Effendi pun dipenuhi dengan warna kebahagiaan. Mahligai rumah tangga muda yang kini selalu dirajut untuk memperkokoh rasa cinta mereka. Cinta yang akan dikukuhkan untuk mencapai derajat kemuliaan di hadapan-Nya.
Seperti biasanya pula, setiap pagi Effendi harus pergi untuk mengajar di sekolahan. Sementara, Astuti sibuk dengan urusan rumah tangga dan bisnis kuenya. Ya, seperti hobi yang dia minati. Kini dia membuka pesanan kue untuk tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Meskipun usianya yang belum mencapai kepala tiga. Namun, kemahiran memasaknya tak urung membuat dia sepi pelanggan. Hampir setiap hari dia menangani pesanan yang datang berbondong-bondong. Tapi dia tak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh sepupunya yang juga jago membuat kue dan jajanan.
“Wah, Mas Effendi tambah cinta nie mbak, kalau lihat istrinya ulet gini! Pasti makin lengket kayak perangko deh! Nila jadi iri, kapan Nila dapet yang kayak Mas Effendi ya? Nikah muda tapi tetap harmonis seperti opa-oma. Apa rahasianya, Mbak?” celoteh sepupunya.
“Apa ya? Ehhmm… Entar mbak cari di kamus ya!”
“Mbak bisa aja! Gak takut cemburu nie Mbak? Pasti cewek-cewek di luar sana kesemsem dengan wajah tampan Mas Effendi dong. Gak takut tuh, Mbak?”
“Kamu itu…! Ya mbak percaya sama Mas Effendi saja, Nil. Mbak yakin Mas Effendi gak kayak gitu. Do’anya Nil.”
“Amin. Tapi kata orang-orang, nikah muda banyak cobaannya loh Mbak. Salah satunya ya penyakit cemburu itu. Runyam urusannya kalau gak diselesain dengan kepala dingin. Nikah dini seperti cinta remaja yang masih labil. Gawat-gawat.”
“Udah ah, kamu semakin ngawur. Itu kuenya diangkat dulu! Entar gosong.” Ujar Astuti mengalihkan pembicaraan. Hatinya pun semakin digelayuti dengan perasaan was-was dan khawatir jika yang dikatakan sepupunya barusan sampai terjadi. Namun, dia mencoba percaya sepenuhnya kepada suaminya itu. Lelaki yang kini akan menuntun dirinya dalam cinta untuk meraih rahmat-Nya.
*****
Beberapa hari belakang ini, rasa cemburu pun semakin menggelayuti hati Astuti. Apalagi saat dia membaca pesan dari Ririn di handphone suaminya. Dia semakin tak bisa mengontrol rasa cemburu yang sering hinggap di hatinya.
“Teh-nya mana, Dik?” tanya Effendi selesainya mandi.
“Siapa Ririn, Mas? Soal makan bareng! Apa maksudnya?” tanya Astuti dengan wajah geram.
“Apa saya ada kekurangan buat, Mas? Apa selama ini saya belum bisa menjadi istri yang baik? Saya seorang wanita mas, saya punya perasaan. Apalagi melihat suaminya mesra-mesraan dengan wanita lain. Istri mana yang gak hancur hatinya, Mas?” Tambahnya.
“Kamu kok bicaranya semakin ngawur, Dik? Ririn itu teman kuliahku dulu. Dia ngajak kita makan bareng. Kalau mau ya, kita pergi! Kalau kamu gak bisa, aku juga gak bakal pergi, Dik. Karena mas tak ingin menyakiti perasaanmu.”
“Memang benar ya yang orang-orang katakan. Nikah muda memang tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak cobaannya. Apalagi perselingkuhan!” Sindir Astuti.
“Sudah, Dik! Mas gak mau bertengkar. Nanti mas kenalin dengan Ririn.”
*****
 Suasana pagi yang baru beberapa menit telah tergantikan. Cahaya hangatnya telah memudar ditelan waktu. Wajah mentari yang sudah menjelma seperti api yang menyulut panasnya. Namun, angin berulang kali berkejar-kejaran seolah memberi suasana yang menyejukan.
Di rumah makan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Namun, wajah Astuti masih nampak geram saat melihat sesosok wanita yang bernama Ririn; teman Effendi.
“Ini istrimu, Fen? Kenalin mbak, saya Ririn teman Effendi. Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf gak bisa datang dalam pernikahannya. Effendi sering banget loh cerita tentang mbak. Mbak memang istri yang pengertian ya! Beruntung Effendi memiliki istri seperti mbak Astuti.” Ujar Ririn.
“Dengar sendiri kan, Dik! Percayalah! Hubungan kami sebatas teman baik. Ririn satu seprofesi dengan Mas. Mas gak mungkin berbohong kepadamu, Dik. Mas mencintaimu.” Jelas Effendi.
“Iya, Mas. Maafin Astuti yang sudah meragukan kesetiaan Mas. Mbak Ririn, maafin Astuti juga yang sudah berperasangka buruk kepada Mbak.”
Effendi pun menjelaskan duduk permasalahannya kepada Ririn. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Walah, Mbak. Percayalah kepada suamimu, Mbak. Effendi orangnya baik. Setia pula. Hubungan kami cuma sebatas teman dan rekan kerja. Memang nikah dini banyak cobaannya Mbak. Tapi yakinlah pada suamimu, Mbak. Masalah itu lebih baik dibicarakan dengan kepala dingin dan saling terbuka, Mbak. Saling setia, percaya dan memahami satu sama lain sungguh perlu dalam sebuah hubungan. Apalagi dalam membina rumah tangga. Saya yakin Mbak Astuti dan Effendi bisa menjalani hubungan rumah tangga itu lebih baik.”
“Makasih ya, Mbak! Sekali lagi saya minta maaf!” pinta Astuti.
“Ya gak apa-apa, Mbak! Saya maklum. Do’anya selalu untuk kalian. Semoga langgeng.”
“Amin.” Serempak mereka berdua –Astuti dan Effendi- mengamini.
Oleh: Radindra Rahman