Selasa, 31 Mei 2011

Perempuan Penjual Dawet



Namanya Kana, seorang janda yang kini hidup dengan kedua anaknya. Dia menjanda sudah sekitar lima tahun. Kini dia harus berperan menjadi orang tua tunggal untuk kedua anaknya. Namun, kegigihannya membuat perempuan yang satu ini menjadi perempuan yang tangguh dalam menjalani kehidupan. Apalagi harus menghidupi kedua anaknya seorang diri.
Kepergian sang suami -karena penyakit liver- sungguh membuat hati perempuan yang akrab disapa Kana ini jelas terpukul. Istri mana yang rela menerima kepergian sang suami yang dicintainya dengan begitu cepat? Yang sudah mengarungi kehidupan rumah tangga bertahun-tahun demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Seakan airmata itu tidak bisa menetes membasahi pipinya. Kesedihan itu seolah tertahan dalam hatinya. Hanya dia yang tahu betapa hancur dan terpukul hatinya waktu itu. Dia mencoba ikhlas akan takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Mungkin dia bisa mencoba mengikhlaskan kepergian sang suami walau dengan berat hati. Tapi bagaimana dengan perasaan anak-anaknya? Di usia mereka yang masih belasan tahun, yang masih membutuhkan sesosok kedua orang tua, kepergian sang ayah sungguh membuat mereka harus kehilangan kasih sayang dari sosok seorang ayah.
Semenjak kepergian sang suami, Kana-lah yang harus menggantikan perjuangannya. Ya, apalagi kalau bukan untuk berjualan dawet. Semua itu, dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya, dan mencurahkan kasih sayang lewat tetes peluhnya. Setiap pagi menjelang shubuh, dia harus segera bersiap-siap untuk menyiapkan segalanya. Baik menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, mengerjakan pekerjaan rumah maupun membuat dawet hingga menatanya di gerobak yang kini menjadi tempat aduannya. Gerobak kayu warna hijau yang menjadi peninggalan terakhir dari sang suami. Gerobak yang dulu menjadi saksi bisu betapa gigihnya sang suami dalam mencari nafkah untuk dia dan kedua anaknya. Namun, semua itu telah menjadi kenangan masa lalunya. Kini dialah yang harus menggantikan posisi suaminya untuk menghidupi kedua anaknya.
Setiap pagi, Kana harus mendorong gerobak dawet itu menuju pasar yang berjarak sekitar ratusan meter dari rumahnya. Sungguh jarak yang terbilang fantastis untuk ukuran perempuan setengah baya seperti dirinya. Apalagi ukuran tubuhnya yang kecil dan memang saat itu dia sedang menderita penyakit ambien. Bisa dibayangkan bagi penderita ambien yang melakukan pekerjaan seperti itu. Mungkin akan memperparah kondisinya. Tapi bagi Kana hal itu tidak mungkin dia eluh-eluhkan, karena semua itu dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya. Hanya dia seorang yang kini menjadi tumpuan harapan untuk masa depan anak-anaknya kelak. Ya, sebagai orang tua tunggal yang posisinya harus menjadi ayah dan sekaligus ibu untuk mereka.
Bertahun-tahun dia berdagang dawet di pasar dan terkadang di sekitar rumahnya. Memang penghasilannya dari berjualan dawet tidak seberapa. Apalagi jika kondisinya lagi sepi. Bahkan tidak bisa mengembalikan modal untuk berjualan besok. Penghasilannya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Baik kebutuhan sehari-hari maupun biaya pendidikan kedua anaknya. Namun, dia tidak berputus asa begitu saja. Dia sadar rezeki sudah ada yang mengatur. Dia akan terus berusaha mencari nafkah untuk kedua anaknya.
Jika menilik dari kehidupannya yang dulu, saat suaminya masih hidup, sungguh sangat memperihatinkan kondisi keluarganya. Bagaimana tidak, hidup di rumah yang dulu masih terbilang kecil dan sederhana. Bahkan genting dan papannya yang sudah tidak layak pakai. Ruang-ruang yang sempit dan kondisi yang serba pas-pasan. Membuat dia dan keluarganya hanya bisa sabar dan terus berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup. Mungkin dalam benaknya, dia juga ingin memiliki rumah yang layak seperti tetangga-tetangganya. Yang notabenenya serba kecukupan. Namun, perjuangan yang tidak ada hentinya membuat perubahan dalam hidup mereka. Setidaknya mereka bisa merenovasi rumah untuk kenyamanan anak-anak mereka juga.
Hampir setiap hari, Kana tidak hanya mendorong gerobaknya untuk menjajakan dawetnya. Tapi lebih dari itu, dia juga harus mengurusi pekerjaan rumah. Bertahun-tahun seakan tidak ada rasa mengeluh dalam hatinya dengan berjualan dawet. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang? Mungkin dalam hatinya, dia juga ingin terlepas dari beban hidup yang dirasa sangat kurang dan serba dalam kekurangan. Mungkin dia juga merasa iri saat melihat pasangan keluarga yang hidup utuh. Didampingi sang suami yang bisa diajak bercanda dan mencurahkan keluh-kesah kepenatannya. Sementara, dia masih bergulat dengan hidupnya yang akan terus berjualan dawet. Tapi dia sadar, dia harus terus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Di samping itu, kasih sayang juga harus dia curahkan kepada anaknya. Karena dia sadar, kini tinggal dialah orang tua yang bisa membimbing mereka, memberi pengarahan, dan selalu mengayomi mereka sebagaimana mestinya tugas orang tua. Dia juga tidak ingin kedua anaknya kelak bernasib seperti dia. Harapan itu pun ada, berharap anaknya kelak bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan orang tua.  Betapa tidak berharganya, saat orang tua tidak bisa memberi kebahagiaan kepada anak-anaknya. Mungkin hal itu juga pernah dia rasakan, saat dia tidak bisa memenuhi permintaan anak-anaknya.
Kondisi tubuhnya yang sering sakit-sakitan membuat dia sempat menghentikan berjualannya beberapa hari. Ya, karena penyakit ambiennya kambuh lantaran terlalu sering melakukan pekerjaan yang berat. Terkadang untuk menghemat tenaga, dia berinisiatif untuk berjualan dawet di rumah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah kondisi badannya sudah dirasa enakkan, dia lekas melakukan aktivitasnya untuk berjualan dawet di pasar. Dari kegigihannya bekerja keraslah, sampai akhirnya dia bisa membuka warung kecil-kecilan di rumah. Memang dari awal berjualan hanya sedikit barang yang dijual. Hanya sekadar minuman dan makanan ringan untuk tetangga-tetangganya. Tapi lambat laun, usahanya pun mengalami peningkatan yang cukup baik. Hingga sampai sekarang dia bisa memenuhi warungnya dengan beragam jajanan dan kebutuhan dapur untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya.
Itulah sedikit kisah yang bisa saya bagikan kepada Anda dari kisah seorang perempuan penjual dawet, Kana. Dengan kegigihan dan kesabarannyalah, kini dia bisa menikmati jerih payah kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Walaupun dia hidup sebagai seorang janda, hal itu tidak menyurutkan semangat hidupnya. Karena kehidupan yang terbaik adalah kita bisa menjalaninya dengan rasa syukur dan tidak mudah berputus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar