Selasa, 31 Mei 2011

Ilmu Seluas 7 Samudera




Langit malam tampak kusam. Rembulan tak bertengger di pojok langit sana. Bintang juga tak bersekutu malam ini. Sepi dan senyap bersemayam menguasai ruang. Angin berulang kali merangkas dedaunan yang sedang terlelap di malam hari. Kabut mulai menampakan diri. Udara dingin menjalar menusuk tubuh kecil yang tak berdaya di balik selimut. Menggigil kedinginan. Seakan rusuk sudah terinfeksi udara yang mematikan. Angin datang kembali dengan dahsyat dan lebih dahsyat menebarkan dinginnya hawa malam ini. Selimut tak lagi mampu menangkis keganasan malam. Dihempaskanya selimut yang sejak tadi membungkus tubuh yang sudah tua. Dan mulai membuka mata yang remang untuk menelusuri pintu kearah depan.
Di suatu ruang, duduk dua bayang yang sedang serius berdialog untuk mencapai kesepakatan. Wajah mereka tampak kecut, tegang, dan sedikit meluapkan emosi. Sementara tubuh perempuan yang baru beranjak dari kamar masih berdiri terheran-heran memandang dua lelaki yang saling pandang di ruang tamu. Dilihatnya jam dinding yang terletak tepat di atas mereka. Waktu menunjukan pukul 12.00 malam tepat. Sementara dari kejauhan kedua lelaki itu masih terdiam tanpa negosiasi. Peluh sedikit demi sedikit mulai tampak bergelayut di dahi mereka. Seakan menunjukan begitu dahsyatnya sidang diantara mereka. Hanya hening menyelimuti suasana ruang tamu kala itu. Sementara perempuan itu masih berdiri termangu. Sekali dirapikan penutup kepalanya. Dan beberapa menit kemudian terdengar obrolan singkat dari arah kedua lelaki di pojok ruang tamu. Negosiasi pun dilancarkan kembali.
“Boleh, Pak?”
“Tidak!”
Dan perempuan setengah baya bertubuh sedang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya tadi mulai menuntun langkahnya menuju tempat negosiasi itu berlangsung. Semakin dekat tubuhnya. Langkahnya kecil. Dan lebih dekat menghampiri lelaki yang sepantaran. Dan duduk disebelahnya.
“Ada apa ini, Pak? Ini sudah larut malam. Apa pembicaraanya tak  bisa dilanjut
besok?”
“Huhh, tak ada waktu, Bu! Keadaan terus memaksa. Dan semakin genting”
“Kenapa?”
“Aku ingin kuliah, Bu! Tapi…”
“Kenapa?”
“Tapi Bapak tidak setuju”
Lelaki yang sedang duduk di sebelah perempuan itu berbicara lantang.
“Kenapa Bapak tidak setuju. Anak kita ingin menuntut ilmu. Itu niat yang baik. Apa salahnya Pak?”
“Ini bukan masalah salah atau benar. Tapi dari mana kita dapat uang yang tak sedikit untuk kuliah. Biaya kuliah sekarang semakin mahal, Bu. Belum lagi kita mesti melanjutkan sekolah adiknya juga. Kebutuhan untuk makan sehari-hari saja kita mesti ngutang, Bu. Bapak malu kalau ketemu Pak Kosim, hutang kita numpuk, Bu. Apa yang dapat kita gadai? Apa yang mesti kita harapkan dari ladang gersang tak ada isi? Apa yang dapat kita tukar dengan panci-panci usang? Semua sulit untuk kita, Bu”
“Ternak?”
“Tak akan Bapak jual. Itu harta satu-satunya yang masih tersisa”
“Tapi Pak, Ipul akan cari kerja…!”
 “Kerja apa? Mereka butuh sarjana. Kamu? Mending kau pergi ke pondok. Di sana kau juga bisa menuntut ilmu. Lebih dari yang kau cita-citakan. Lebih dari yang kau harapkan selama ini. Dan kau tak akan menyesal nantinya”
“Tapi Ipul tak bisa Pak. Apa yang dapat ipul harapkan setelah keluar dari sana? Mereka butuh sarjana. Dan Ipul akan membahagiakan keluarga nantinya, dengan gelar yang telah Ipul dapatkan”
“Kau belum coba. Di sana kau tak cuma dapatkan ilmu, Pul. Kau juga akan dapatkan didikan moral, akhlak, dan agama. Sekarang yang kita harapkan dari dirimu, kau bisa menjadi panutan yang baik dan tak akan lupa Tuhanmu. Allah SWT. Itu yang kita harapkan, tak lebih!”
“Ipul ingin kuliah Pak. Titik”
“Dan bapak ingin kau mondok. Titik”
Braakk!!!
Suara keras benturan kursi ikut meramaikan pembicaraan di antara mereka. Dan lelaki setengah baya itu langsung pergi meninggalkan pembicaraan tanpa memberikan titik terang kepada Ipul. Pada negosiasi yang sejak tadi diluncurkan.
Tik, tik, tik!!!
Dentang jarum jam menambah sunyi di tengah tatap muka Ipul dan Ibunya. Tanpa ada obrolan menyelinap. Keduanya diam terpaku. Dan waktu terus berjalan sampai larut. Angin di luar terdengar ramai meniup pepohonan kering. Daun-daun berguguran diterpa angin dan jauh pergi ke tempat kosong. Sementara di ruang tamu tetes air mata perlahan bergelayut membasahi pipi. Harapan seakan nyata akan sirna dan tinggal menunggu waktunya tiba.
“Pul, laksanakanlah titah bapakmu. Ipul tahu ‘kan, kami sayang Ipul. Kami berharap pada Ipul. Tapi ibu juga tak paksa”
“Bu!”
“Pul, lihatlah tetangga kita yang juga bisa sukses setelah keluar dari pondok. Pak Ali dulu juga dari pondok. Dan kini beliau sukses menjadi pemuka agama. Hj. Sri sukses menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Dan Rahmat, dia juga seusiamu, tapi dia sudah mahir berbahasa Arab dan kitab. Tapi Ibu tak memaksa. Pikirkanlah!”
Perempuan itu juga pergi meninggalkan kesunyian di ruang tamu. Perlahan bayangnya sudah lenyap di telan waktu. Pijak langkahnya sudah tak terdengar lagi. Kini malam bertambah semakin sunyi dan senyap. Angin berulang kali terdengar berlarian di luar sana. Daun-daun menjerit kesakitan karena belum musimnya merangkas diri. Bahkan jejak gugurnya tak tampak di permukaan. Semua hilang bak ditelan waktu. Angin ganas.
Di sebuah ruang yang tak jauh dari keasingan tadi, dua mulut sedang beradu melanjutkan negosiasi yang belum mencapai titik akhirnya. Suasana ruangnya sedikit remang. Lampu kecil tahun lalu tak cukup menerawang wajah mereka. Bahkan emosi bisa berubah seketika. Tak ada yang tahu permainan hati. Pembicaraan berlanjut.
“Pak jangan terlalu keras pada anak. Itu bukan didikan yang baik”
“Bapak gagal Bu menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak sudah gagal mendidik anak sesuai yang Allah harapkan. Bapak tak mampu memenuhi keinginan mereka. Apa yang mesti bapak perbuat lagi, Bu? Butuh berapa kali lagi Bapak adukan hati ini pada-Nya?”
“Bapak tak gagal. Bapak sukses. Ini hanya masalah nasib. Tapi kita juga tak bisa menyalahkan nasib. Nasib itu dari Allah. Dan Allah percaya kepada kita Pak untuk mendidik mereka dengan baik. Mendidik anak kita dengan agama. Langkah bapak sudah benar”
“Ibu setuju Ipul mondok?”
“Berilah penjelasan kepada Ipul dengan sabar”
“Ya Bu. Semoga Ipul tahu maksud Bapak”
Waktu terus berjalan dan berjalan terus!
Pergulatan malam yang panjang sudah berakhir. Angin hanya beberapa kali mencumbui dedaunan dan akhirnya lenyap sudah. Kini waktu telah berganti. Sunyi tak lagi menguasai dan senyap tak lagi merasuk dalam mimpi. Di ufuk timur sana sang empunya pagi sudah tersenyum lebar menyapa alam yang permai. Tanpa kesunyian. Kini waktu terbuka baru. Dan hangat nurnya mencairkan luka. Pengobat keganasan angin malam tadi.
Di halaman depan terlihat lelaki setengah baya yang semalam sedang bergulat dengan  hati, kini dia asyik dengan peralatan ladangnya. Sesekali dicobanya pada tanah rerumputan di depanya.
“Pak ngopi dulu!”
Terdengar sang istri menyuguhkan minuman untuk melepas kepergianya ke ladang. Lelaki setengah baya itu pun membalas dengan senyum simpul. Di taruhnya peralatan yang setiap pagi setia menemaninya berladang. Dan perlahan dihampirinya suguhan istri tercintanya. Kopi pun siap mengisi tenggorokkanya.
“Alhamdulillah. Ibu memang mengerti selera Bapak. Andai anak-anak kita tahu, Bu!”
“Sudahlah, Pak! Ayo dihabiskan kopinya, Pak!”
“Ipul mau pak”
Sekejap sesosok Ipul menyelinap di tengah-tengah mereka.
“Pak Ipul sudah pertimbangkan keputusan semalam. Akhirnya Ipul sadar pendidikan agama lebih penting untuk Ipul Pak. Penting untuk kedepanya kehidupan Ipul. Ipul juga sadar Bapak dan Ibu berharap pada Ipul sepenuhnya. Dan Bapak tak gagal menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak telah sukses”
Mereka terbengong-bengong mendengar keputusan Ipul untuk pergi ke pondok. Lelaki setengah baya itu seketika meletakan cangkir kopinya. Dan mengarahkan langkahnya menuju tubuh Ipul. Senyum tampak menghiasi wajahnya yang semakin dipenuhi guratan.
“Bapak senang mendengar itu, Pul. Maaf Bapak tak mampu mewujudkan cita-citamu. Tapi Bapak berharap kau bisa mewujudkan cita-citamu kelak setelah dari pondok. Ya ‘kan. Bu?”
“Ya pak. Ibu juga bangga pada mu Pul”
“Justru Ipul bangga pada Bapak dan Ibu. Bapak dan Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk Ipul. Dan Ipul akan mewujudkan cita-cita Bapak dan Ibu, supaya Ipul menjadi orang sholeh. Semoga Ipul menjadi orang yang berguna kelak untuk keluarga dan semuanya”
“Amin”
Waktu akan terus berjalan dan berjalan terus! Dan hari tak akan sepi untuk ilmu yang Dia ridhoi.
……………………………………………………………………..







22.29, 2 Juni 2010
Radindra Rahman

1 komentar: