Jumat, 27 Mei 2011

Mas, Siapa Wanita itu?


Ini sudah menginjak hari ke tiga Astuti menjalani kehidupan baru dengan Effendi. Hubungan yang masih terasa hangat-sehangat jamuan teh manis di pagi hari. Semanis balutan madu yang menemani di setiap lelap mimpi mereka. Mimpi yang terukir berdua untuk mewujudkan keluarga yang langgeng sampai akhir hayat. Keluarga yang penuh cinta dan kasih yang tak akan pernah pupus oleh sang waktu. Bahkan akan abadi sepanjang perjalanan hidup.
Cinta di antara mereka tak memerlukan waktu lama untuk menyatukannya dalam ikatan sakral pernikahan. Cinta yang tak dimiliki oleh sepasang kekasih muda-mudi sepantaran mereka. Cinta itu tumbuh begitu cepat dan telah menumbuhkan benih-benih kasih di antara mereka. Cinta yang pada hakikatnya suci dan terlahir untuk memuliakan derajat makhluk-makhluk-Nya.
Pagi itu, pada langit yang masih terlihat sayu. Pada embun-embun putih yang masih membasahi klorofil. Dan burung-burung kecil yang bersiul pada dinginnya angin yang masih terasa menusuk rusuk. Terlihat Astuti keluar dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh hangat untuk Effendi di teras depan. Effendi nampak sedang memanasi motornya yang akan dibawanya pergi kerja. Astuti nampak tersenyum melihat suaminya yang begitu semangat untuk bekerja di pagi hari.
“Mas, nge-teh dulu!” ujar Astuti dengan nada lembut.
“Sayang sudah bangun?” ujar Effendi. Lekas dia menghampiri istrinya yang masih berdiri dengan membawa secangkir teh hangat. Kemudian diciumnya kening istrinya sebagai tanda kasih sayang yang melebihi hangatnya mentari pagi. Sinarnya yang tak bisa menandingi hangatnya jamuan istri kepada suami di pagi hari.
“Heemm… istriku memang pandai soal memanjakan suami. Teh bikinanmu sungguh nikmat, Dik!” Ujar Effendi memuji-muji istrinya. Karena dia tahu, suami yang baik harus memuji istrinya atas kesetiaan yang telah diberikan. Astuti hanya tersenyum malu mendengar pujian dari suaminya itu. Dia cubit manja lengan suaminya.
“Sudah resmi mengajar hari ini, Mas?” tanya Astuti.
“Iya. Kepala sekolah meminta mas untuk mengajar hari ini juga. Sekaligus menggantikan Bu Harti yang tak bisa mengajar untuk sementara waktu.” Jelas Effendi.
“Mas minta do’anya, Dik. Inikan pertama kalinya mas mengajar. Wisuda baru beberapa hari kemarin. Jadi, butuh persiapan yang lebih matang untuk menghadapi pola pikir anak-anak yang berbeda-beda. Mas juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolahan.” Tambah Effendi.
“Astuti yakin mas bisa. Gelar mas itulah yang sudah membuktikan mas layak dan mampu untuk mengabdikan diri. Astuti akan selalu mendo’akan, Mas!”
Lalu untuk kesekian kalinya Effendi mencium kening istrinya kembali. Jamuan pagi itu telah menambah kehangatan pasangan yang baru seumur jagung. Bahkan masih seperti  remaja yang sedang dimabuk asmara.
“Bau ah Mas. Mandi dulu. Astuti sudah bikinin nasi goreng kesukaan Mas.”
“Pake telur ‘kan?” tanya Effendi manja.
“Iya, tapi telur puyuh.” Canda Astuti.
“Wah, kekecilan Dik.”
Keduanya saling tertawa dalam kehangatan kasih yang telah memecah langit sayu. Dari celah-celah ranting pepohonan sinar hangat sang empunya pagi telah tercipta begitu indah. Cahayanya telah mengikis embun-embun dari dedaunan.
*****
“Effendi?” sapa Ririn; teman Effendi.
“Ririn? Kamu ngajar di sini juga?”
“Iya, kok bisa kebetulan gini ya? Wah, jodoh nie!”
“Eh, jangan menggoda saya lagi ya. Sudah ada yang punya nie.”
“Kan di rumah. Di sini punya banyak orang, bukan? Termasuk saya.”
“Kamu memang masih seperti dulu, Rin. Masih suka bercanda saja. Gimana kabarmu?”
“Alhamdulilah, baik. Kamu sendiri? Istri?”
“Alhamdulilah.”
Obrolan pun berlangsung dengan hangat sembari melepas kerinduan seorang sahabat lama. Hingga waktu mengajarlah, mereka harus menghentikan gelak tawa yang sudah lama tak terjalin seperti suasana pagi itu. Mereka harus bersikap profesional dalam mengajar. Semua demi dedikasi mereka untuk dunia pendidikan.
“Ada waktu, Fen? Ayo kita makan siang bareng!” Ririn menawarkan.
“Sepertinya gak bisa, Rin. Astuti sudah menunggu di rumah.”
“Iya, iya, saya paham betul! Mentang-mentang sudah punya istri yang setia duapuluh empat jam. Sekarang tega menolak ajakan teman sendiri ya!”
“Bukan begitu maksud saya, Rin. Tapi… tahu sendiri ‘kan, gak enak kalau kita jalan berdua. Sekarang posisinya beda. Saya takut menimbulkan fitnah. Saya gak ingin Astuti salah paham kepada kita. Mohon pengertiannya.”
“Sama teman seprofesi sendiri, Fen? Okay, saya mengerti maksud kamu.”
“Maaf ya Rin! Tapi terima kasih atas tawarannya loh.”
“Hari minggu depan, gimana? Masak kamu masih menolak tawaran temanmu sendiri? Ajak juga istrimu!”
“Akan saya usahakan. Tapi saya gak janji.”
*****
Hari demi hari perjalanan cinta Astuti dan Effendi pun dipenuhi dengan warna kebahagiaan. Mahligai rumah tangga muda yang kini selalu dirajut untuk memperkokoh rasa cinta mereka. Cinta yang akan dikukuhkan untuk mencapai derajat kemuliaan di hadapan-Nya.
Seperti biasanya pula, setiap pagi Effendi harus pergi untuk mengajar di sekolahan. Sementara, Astuti sibuk dengan urusan rumah tangga dan bisnis kuenya. Ya, seperti hobi yang dia minati. Kini dia membuka pesanan kue untuk tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Meskipun usianya yang belum mencapai kepala tiga. Namun, kemahiran memasaknya tak urung membuat dia sepi pelanggan. Hampir setiap hari dia menangani pesanan yang datang berbondong-bondong. Tapi dia tak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh sepupunya yang juga jago membuat kue dan jajanan.
“Wah, Mas Effendi tambah cinta nie mbak, kalau lihat istrinya ulet gini! Pasti makin lengket kayak perangko deh! Nila jadi iri, kapan Nila dapet yang kayak Mas Effendi ya? Nikah muda tapi tetap harmonis seperti opa-oma. Apa rahasianya, Mbak?” celoteh sepupunya.
“Apa ya? Ehhmm… Entar mbak cari di kamus ya!”
“Mbak bisa aja! Gak takut cemburu nie Mbak? Pasti cewek-cewek di luar sana kesemsem dengan wajah tampan Mas Effendi dong. Gak takut tuh, Mbak?”
“Kamu itu…! Ya mbak percaya sama Mas Effendi saja, Nil. Mbak yakin Mas Effendi gak kayak gitu. Do’anya Nil.”
“Amin. Tapi kata orang-orang, nikah muda banyak cobaannya loh Mbak. Salah satunya ya penyakit cemburu itu. Runyam urusannya kalau gak diselesain dengan kepala dingin. Nikah dini seperti cinta remaja yang masih labil. Gawat-gawat.”
“Udah ah, kamu semakin ngawur. Itu kuenya diangkat dulu! Entar gosong.” Ujar Astuti mengalihkan pembicaraan. Hatinya pun semakin digelayuti dengan perasaan was-was dan khawatir jika yang dikatakan sepupunya barusan sampai terjadi. Namun, dia mencoba percaya sepenuhnya kepada suaminya itu. Lelaki yang kini akan menuntun dirinya dalam cinta untuk meraih rahmat-Nya.
*****
Beberapa hari belakang ini, rasa cemburu pun semakin menggelayuti hati Astuti. Apalagi saat dia membaca pesan dari Ririn di handphone suaminya. Dia semakin tak bisa mengontrol rasa cemburu yang sering hinggap di hatinya.
“Teh-nya mana, Dik?” tanya Effendi selesainya mandi.
“Siapa Ririn, Mas? Soal makan bareng! Apa maksudnya?” tanya Astuti dengan wajah geram.
“Apa saya ada kekurangan buat, Mas? Apa selama ini saya belum bisa menjadi istri yang baik? Saya seorang wanita mas, saya punya perasaan. Apalagi melihat suaminya mesra-mesraan dengan wanita lain. Istri mana yang gak hancur hatinya, Mas?” Tambahnya.
“Kamu kok bicaranya semakin ngawur, Dik? Ririn itu teman kuliahku dulu. Dia ngajak kita makan bareng. Kalau mau ya, kita pergi! Kalau kamu gak bisa, aku juga gak bakal pergi, Dik. Karena mas tak ingin menyakiti perasaanmu.”
“Memang benar ya yang orang-orang katakan. Nikah muda memang tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak cobaannya. Apalagi perselingkuhan!” Sindir Astuti.
“Sudah, Dik! Mas gak mau bertengkar. Nanti mas kenalin dengan Ririn.”
*****
 Suasana pagi yang baru beberapa menit telah tergantikan. Cahaya hangatnya telah memudar ditelan waktu. Wajah mentari yang sudah menjelma seperti api yang menyulut panasnya. Namun, angin berulang kali berkejar-kejaran seolah memberi suasana yang menyejukan.
Di rumah makan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Namun, wajah Astuti masih nampak geram saat melihat sesosok wanita yang bernama Ririn; teman Effendi.
“Ini istrimu, Fen? Kenalin mbak, saya Ririn teman Effendi. Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf gak bisa datang dalam pernikahannya. Effendi sering banget loh cerita tentang mbak. Mbak memang istri yang pengertian ya! Beruntung Effendi memiliki istri seperti mbak Astuti.” Ujar Ririn.
“Dengar sendiri kan, Dik! Percayalah! Hubungan kami sebatas teman baik. Ririn satu seprofesi dengan Mas. Mas gak mungkin berbohong kepadamu, Dik. Mas mencintaimu.” Jelas Effendi.
“Iya, Mas. Maafin Astuti yang sudah meragukan kesetiaan Mas. Mbak Ririn, maafin Astuti juga yang sudah berperasangka buruk kepada Mbak.”
Effendi pun menjelaskan duduk permasalahannya kepada Ririn. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Walah, Mbak. Percayalah kepada suamimu, Mbak. Effendi orangnya baik. Setia pula. Hubungan kami cuma sebatas teman dan rekan kerja. Memang nikah dini banyak cobaannya Mbak. Tapi yakinlah pada suamimu, Mbak. Masalah itu lebih baik dibicarakan dengan kepala dingin dan saling terbuka, Mbak. Saling setia, percaya dan memahami satu sama lain sungguh perlu dalam sebuah hubungan. Apalagi dalam membina rumah tangga. Saya yakin Mbak Astuti dan Effendi bisa menjalani hubungan rumah tangga itu lebih baik.”
“Makasih ya, Mbak! Sekali lagi saya minta maaf!” pinta Astuti.
“Ya gak apa-apa, Mbak! Saya maklum. Do’anya selalu untuk kalian. Semoga langgeng.”
“Amin.” Serempak mereka berdua –Astuti dan Effendi- mengamini.
Oleh: Radindra Rahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar