Jumat, 12 Agustus 2011

Bumi Rumahku


Rintik-rintik hujan mulai reda membasahi bumi. Daun-daun pada ranting pepohonan terlapisi air yang berwarna bening langit. Langit yang kini tergores warna biru nirmala. Bahkan terlihat mengagumkan dengan polesan tujuh warna pelangi.
Di sisi lain, burung-burung kecil terdengar lebih merdu kicaunya, bertengger di atas genting yang belum kering karena air hujan. Genting-genting yang sama betul rupa dan bentuknya. Warna hitam usang dan terbuat dari tanah liat. Bahkan beberapa dari rumah mereka tidak menggunakan genting sebagai atapnya. Namun, seng-seng bekas yang cukup kuat untuk menahan terik dan hujan. Tidak ada seberkas sinar yang menerawang ke dalam ruangan. Gelap dan pengap. Melainkan rembesan air hujanlah yang selalu menggenangi lantai yang masih berbau tanah pedesaan. Ya, walaupun mereka hidup di daerah perkotaan. Di atas pinggiran sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Tempat bagi kaum-kaum pinggiran.
Jalan-jalan setapak depan rumah masih tergenang air. Permukaannya sudah tidak lagi rata dan kering. Lumpur telah bercampur dengan debu-debu yang terkikis dari genting-genting. Guguran dedaunan dari pohon-pohon tua juga ikut tersapu air hujan. Namun, semua itu telah disambut dengan senyum dan tawa polos anak-anak. Langkah-langkah kecil yang ingin bermain dan berlarian dalam keceriaan dunia mereka. Dunia penuh imajinasi.
Terlihat sesosok lelaki tua keluar dari dalam rumah. Rumah yang terletak tidak jauh dari pohon besar yang berdiri kokoh di pinggiran sungai. Rumah sederhana yang sudah berdiri beberapa puluh tahun yang lalu. Sosoknya telah hadir di antara canda dan tawa anak-anak kecil yang sedang berlarian di depan rumahnya. Langkahnya tertatih-tatih menuju emperan rumah. Terlihat guratan-guratan keriput di wajah lelaki tua itu. Lelaki yang akrab disapa Mbah Mijan.
“Jangan lari-larian! Nanti jatuh.” Ujarnya kepada anak-anak yang sedang asyik bermain air.
“Tidak Mbah!”
“Lebih baik duduk sini sama Mbah! Mbah punya cerita bagus.”
“Hore. Hore. Cerita apa Mbah? Si Kancil dan Si Buaya ya, Mbah?”
Lalu langkahnya menuju kursi usang yang ada di depan emperan rumahnya. Seperti mendapatkan hadiah yang membuat hati mereka gembira. Anak-anak langsung menghampiri Mbah Mijan yang sudah duduk di kursi tuanya. Mereka langsung menyulap sandal mereka menjadi alas untuk duduk. Semua duduk tenang memperhatikan raut wajah tua Mbah Mijan yang akan mengisahkan sebuah cerita. Lelaki tua yang terkenal pandai mendongeng di perumahan pinggiran sungai itu.
“Sini duduk di pangkuan si Mbah!” pinta Mbah Mijan kepada salah satu anak yang bertubuh kecil.
“Dengarkan baik-baik cerita Mbah ya?” tambah Mbah Mijan. Anak-anak hanya menganggukan kepala dengan wajah polosnya. Rasa penasaran pun mulai menggelayut di raut wajah mereka.
“Mbah ingin bercerita tentang Si Ikan dan Si Ikal.” Tuturnya.
“Dahulu kala hiduplah Si Ikan yang tinggal di sungai. Dia menjaga sungai setiap hari. Dari merawat sungai, membersihkan sampah-sampah dan menjaga ketenangan sungai. Tapi suatu ketika Si Ikal datang. Saat itu dia merasa lapar sekali. Dia ingin memancing ikan di sungai. Setelah lama menunggu. Akhirnya dia mendapatkan sebuah ikan besar. “Saya bisa makan hari ini?” kata Ikal. “Saya mohon jangan makan saya. Jika kamu memakan saya, bencana akan datang.” Pinta Si Ikan menjelaskan. Ikal pun tidak memperdulikan perkataan Si Ikan. Dia membawa pulang ikan itu dan memakannya dengan lahap….”
Mbah Mijan menghela nafas sejenak.
“Terus apa yang terjadi, Mbah?” tanya anak-anak yang bertambah penasaran. Mbah Mijan hanya melempar senyum melihat wajah anak-anak yang tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.
“Semenjak kepergian Si Ikan dari sungai. Sungai menjadi keruh karena sampah-sampah bertumpuk memenuhi aliran sungai. Kehidupan yang ada di dalamnya pun mati karena kekurangan oksigen. Air terus bertambah keruh dan kotor karena tumpukan sampah-sampah. Saat hujan datang, terjadilah banjir yang merobohkan rumah-rumah yang ada di pinggiran sungai itu.” Jelas Mbah Mijan melanjutkan.
“Bagaimana dengan Si Ikal, Mbah?”
“Ikal pun menyesali bahwa perbuatannya salah. Dia pun mengajak warga untuk membersihkan sungai secara bergotong-royong. Sungai pun kembali bersih dan bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat.”
“Kasihan Si Ikan ya, Mbah?”
“Ya, jadi kalian tidak boleh membuang sampah ke sungai ya? Kasihan ikannya kan tidak bisa bernafas karena airnya kotor. Kalian harus menjaga sungai kita supaya tetap bersih dan tidak menimbulkan…?”
“Banjir Mbah!”
“Jadi, sampahnya harus dibuang di…?”
“Tempat sampah, Mbah. Tidak boleh di sungai.”
“Pintar cucu Mbah.”
*****
Air mengalir tenang dari sungai yang terletak di belakang rumah warga. Sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Semua aktivitas mulai dari mencuci, mandi bahkan memasak sekalipun. Semua tidak terlepas untuk memanfaatkan air yang sudah tidak lagi bening itu. Sampah-sampah tidak sedikit yang menutup wajah sungai yang dahulu jernih itu. Airnya telah berubah kuning kecokelat-cokelatan bercampur sampah yang terus dibuang warga ke sungai. Seakan tidak ada kepedulian dan kekhawatiran akan dampak dari air sungai yang sudah tidak layak digunakan. Namun, mereka masih menggantungkan hidupnya dengan pemakaian air dari sungai itu. Ya, lantaran air yang begitu mahal dan sulit diperoleh untuk mereka orang-orang pinggiran.
“Masih membuang sampah ke sungai, Bu?” tanya Mbah Mijan yang mendapati tetangganya membuang sampah ke sungai.
“Ya, Mbah. Bagaimana lagi, tidak ada tempat lain lagi untuk membuang sampah. Kan Mbah tahu sendiri, komplek kita ini sempit Mbah. Tidak ada lahan yang cukup untuk tempat pembuangan sampah. Rumah saja tidak seluas kandang kucing orang-orang kaya, Mbah.”
“Ya, kan bisa pakai tong-tong bekas untuk menampung sampah atau membuat galian lubang kecil di belakang rumah. Kita bedakan antara yang sampah organik dan anorganik. Nanti kalau sudah penuh bisa dibakar sampahnya. Kalau terus-terusan membuang sampah ke sungai bisa memperkeruh sungai. Kasihan anak-anak juga ‘kan bu jika terkena penyakit. Kalau musim hujan datang, bisa menyebabkan banjir juga ‘kan, Bu?”
“Itu sih urusan pemerintah, Mbah! Yang di atas yang harus menangani masalah itu. Apa gunanya pemerintah jika tidak bisa mengurusi rakyatnya?”
“Terus apa gunanya aturan jika rakyatnya sendiri masih melanggar, Bu? Kita juga jangan terlalu berharap pada pemerintah kan, Bu?”
Ibu setengah baya itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Mbah Mijan tanpa sepatah kata pun. Lalu pandangan Mbah Mijan tertuju ke arah sungai yang sudah tidak lagi bersih itu. Dihelanya nafas panjang melihat keadaan yang sudah berubah dari masanya dulu. Sungai yang menjadi saksi hidupnya kini telah berubah menjadi keluh kesah di masa tuanya. Tidak ada seroang pun yang peduli akan sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Justru setiap hari sampah terus bertambah banyak dan kian menumpuk. Bahkan tidak sedikit warga yang mendirikan jamban di pinggiran sungai. Sungai yang tidak hanya dimanfaatkan untuk mencuci dan mandi. Bahkan untuk bahan konsumsi oleh warga di pinggiran sungai itu.
Segala upaya telah dilakukan Mbah Mijan untuk menyadarkan warga, betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Terutama sungai yang kini menjadi sumber utama kehidupan bagi warga. Penyuluhan-penyuluhan yang pernah dilakukan Mbah Mijan selama ini pun belum bisa menyadarkan warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Seakan segala usahanya tidak ada yang membuahkan hasil. Namun, sifat ulet dan kegigihan dalam hatinyalah yang terus berkobar untuk terus mengingatkan warga agar menjaga sungai dan lingkungan sekitar.
Diusianya yang sudah senja, dia justru memiliki tanggungjawab besar sebagai orang yang dituakan di perumahan pinggiran sungai itu. Dia merasa memiliki andil besar untuk merubah warga yang berlaku salah dalam memperlakukan lingkungan.
Pagi itu, Mbah Mijan mencoba mengajak warga untuk membuat galian kecil di belakang rumah atau di tempat yang sekiranya kosong untuk dijadikan pembuangan sampah sementara. Beberapa orang pun melakukan apa yang diinstruksikan oleh Mbah Mijan. Namun, tidak sedikit pula yang menolak lantaran membuang-buang waktu mereka. Masih banyak dari mereka yang lebih senang membuang sampah ke sungai secara langsung.
*****
“Mbah? Mbah Mijan?” seru seorang warga dengan nada bicara agak panik. Mbah Mijan yang mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras langsung terbangun. Lalu diambilnya tongkat yang biasa menemani langkahnya. Jalannya tertatih-tatih menuju pintu depan.
“Ada apa, Le?” tanya Mbah Mijan.
“Mbah warga banyak yang terkena penyakit aneh. Anak-anak juga pada terkena diare, Mbah.”
“Sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Dibawa ke puskesmas, Mbah.”
“Ya, nanti mbah ke sana!”
“Iya, Mbah.”
Dari arah jalan raya, terlihat orang-orang sudah berkerumun memadati area puskesmas. Tua-muda dan lelaki-perempuan semua terlihat bercampur aduk dalam kegelisahan dan tangis, melihat anak-anak dan saudara-saudara mereka tergeletak lemas di ruangan yang ada di puskesmas itu. Perut mereka merasakan melilit kesakitan dan kulit mereka gatal bukan main.
“Mereka sudah mendapat perawatan?” tanya Mbah Mijan setibanya di puskesmas.
“Alhamdulilah, sudah Mbah. Kata dokter yang menangani, mereka terkena diare dan penyakit kulit, Mbah.”
“Iya, Mbah. Mungkin karena air sungai yang sudah tercemar itulah mbah penyebab dari semua ini.” Sahut yang lain.
“Mungkin semua salah kami tidak memperdulikan kata-kata, Mbah.” Tambah yang lain.
“Sudah tidak ada yang perlu disalahkan. Kita ambil hikmahnya dari peristiwa hari ini.” Tutur Mbah Mijan bijak dalam menanggapi permasalahan.
“Ya, Mbah.”
*****
Beberapa hari belakangan warga mulai sibuk dengan instruksi yang diberikan oleh Mbah Mijan untuk membuat tempat pembuangan sampah. Semenjak peristiwa kemarin, akhirnya warga sadar dengan dampak yang mereka timbulkan dengan membuang sampah ke sungai hingga mengakibatkan keruh dan tercemarnya sungai. Kini semua bergotong-royong dalam pembuatan galian di tempat-tempat kosong untuk tempat pembuangan sampah. Tong-tong bekas disulap menjadi tempat-tempat sampah. Dari sudut ke sudut perumahan ibu-ibu juga tidak mau kalah dengan bapak-bapak. Mereka membersihkan rumah dan menanam tumbuh-tumbuhan di emperan rumah mereka. Tapi semua itu tidak terlepas untuk mengembalikan kejernihan sungai kembali. Semua bergotong-royong untuk mengeruk sampah yang sudah menggunung di pinggiran sungai.




Selasa, 31 Mei 2011

Ilmu Seluas 7 Samudera




Langit malam tampak kusam. Rembulan tak bertengger di pojok langit sana. Bintang juga tak bersekutu malam ini. Sepi dan senyap bersemayam menguasai ruang. Angin berulang kali merangkas dedaunan yang sedang terlelap di malam hari. Kabut mulai menampakan diri. Udara dingin menjalar menusuk tubuh kecil yang tak berdaya di balik selimut. Menggigil kedinginan. Seakan rusuk sudah terinfeksi udara yang mematikan. Angin datang kembali dengan dahsyat dan lebih dahsyat menebarkan dinginnya hawa malam ini. Selimut tak lagi mampu menangkis keganasan malam. Dihempaskanya selimut yang sejak tadi membungkus tubuh yang sudah tua. Dan mulai membuka mata yang remang untuk menelusuri pintu kearah depan.
Di suatu ruang, duduk dua bayang yang sedang serius berdialog untuk mencapai kesepakatan. Wajah mereka tampak kecut, tegang, dan sedikit meluapkan emosi. Sementara tubuh perempuan yang baru beranjak dari kamar masih berdiri terheran-heran memandang dua lelaki yang saling pandang di ruang tamu. Dilihatnya jam dinding yang terletak tepat di atas mereka. Waktu menunjukan pukul 12.00 malam tepat. Sementara dari kejauhan kedua lelaki itu masih terdiam tanpa negosiasi. Peluh sedikit demi sedikit mulai tampak bergelayut di dahi mereka. Seakan menunjukan begitu dahsyatnya sidang diantara mereka. Hanya hening menyelimuti suasana ruang tamu kala itu. Sementara perempuan itu masih berdiri termangu. Sekali dirapikan penutup kepalanya. Dan beberapa menit kemudian terdengar obrolan singkat dari arah kedua lelaki di pojok ruang tamu. Negosiasi pun dilancarkan kembali.
“Boleh, Pak?”
“Tidak!”
Dan perempuan setengah baya bertubuh sedang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya tadi mulai menuntun langkahnya menuju tempat negosiasi itu berlangsung. Semakin dekat tubuhnya. Langkahnya kecil. Dan lebih dekat menghampiri lelaki yang sepantaran. Dan duduk disebelahnya.
“Ada apa ini, Pak? Ini sudah larut malam. Apa pembicaraanya tak  bisa dilanjut
besok?”
“Huhh, tak ada waktu, Bu! Keadaan terus memaksa. Dan semakin genting”
“Kenapa?”
“Aku ingin kuliah, Bu! Tapi…”
“Kenapa?”
“Tapi Bapak tidak setuju”
Lelaki yang sedang duduk di sebelah perempuan itu berbicara lantang.
“Kenapa Bapak tidak setuju. Anak kita ingin menuntut ilmu. Itu niat yang baik. Apa salahnya Pak?”
“Ini bukan masalah salah atau benar. Tapi dari mana kita dapat uang yang tak sedikit untuk kuliah. Biaya kuliah sekarang semakin mahal, Bu. Belum lagi kita mesti melanjutkan sekolah adiknya juga. Kebutuhan untuk makan sehari-hari saja kita mesti ngutang, Bu. Bapak malu kalau ketemu Pak Kosim, hutang kita numpuk, Bu. Apa yang dapat kita gadai? Apa yang mesti kita harapkan dari ladang gersang tak ada isi? Apa yang dapat kita tukar dengan panci-panci usang? Semua sulit untuk kita, Bu”
“Ternak?”
“Tak akan Bapak jual. Itu harta satu-satunya yang masih tersisa”
“Tapi Pak, Ipul akan cari kerja…!”
 “Kerja apa? Mereka butuh sarjana. Kamu? Mending kau pergi ke pondok. Di sana kau juga bisa menuntut ilmu. Lebih dari yang kau cita-citakan. Lebih dari yang kau harapkan selama ini. Dan kau tak akan menyesal nantinya”
“Tapi Ipul tak bisa Pak. Apa yang dapat ipul harapkan setelah keluar dari sana? Mereka butuh sarjana. Dan Ipul akan membahagiakan keluarga nantinya, dengan gelar yang telah Ipul dapatkan”
“Kau belum coba. Di sana kau tak cuma dapatkan ilmu, Pul. Kau juga akan dapatkan didikan moral, akhlak, dan agama. Sekarang yang kita harapkan dari dirimu, kau bisa menjadi panutan yang baik dan tak akan lupa Tuhanmu. Allah SWT. Itu yang kita harapkan, tak lebih!”
“Ipul ingin kuliah Pak. Titik”
“Dan bapak ingin kau mondok. Titik”
Braakk!!!
Suara keras benturan kursi ikut meramaikan pembicaraan di antara mereka. Dan lelaki setengah baya itu langsung pergi meninggalkan pembicaraan tanpa memberikan titik terang kepada Ipul. Pada negosiasi yang sejak tadi diluncurkan.
Tik, tik, tik!!!
Dentang jarum jam menambah sunyi di tengah tatap muka Ipul dan Ibunya. Tanpa ada obrolan menyelinap. Keduanya diam terpaku. Dan waktu terus berjalan sampai larut. Angin di luar terdengar ramai meniup pepohonan kering. Daun-daun berguguran diterpa angin dan jauh pergi ke tempat kosong. Sementara di ruang tamu tetes air mata perlahan bergelayut membasahi pipi. Harapan seakan nyata akan sirna dan tinggal menunggu waktunya tiba.
“Pul, laksanakanlah titah bapakmu. Ipul tahu ‘kan, kami sayang Ipul. Kami berharap pada Ipul. Tapi ibu juga tak paksa”
“Bu!”
“Pul, lihatlah tetangga kita yang juga bisa sukses setelah keluar dari pondok. Pak Ali dulu juga dari pondok. Dan kini beliau sukses menjadi pemuka agama. Hj. Sri sukses menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Dan Rahmat, dia juga seusiamu, tapi dia sudah mahir berbahasa Arab dan kitab. Tapi Ibu tak memaksa. Pikirkanlah!”
Perempuan itu juga pergi meninggalkan kesunyian di ruang tamu. Perlahan bayangnya sudah lenyap di telan waktu. Pijak langkahnya sudah tak terdengar lagi. Kini malam bertambah semakin sunyi dan senyap. Angin berulang kali terdengar berlarian di luar sana. Daun-daun menjerit kesakitan karena belum musimnya merangkas diri. Bahkan jejak gugurnya tak tampak di permukaan. Semua hilang bak ditelan waktu. Angin ganas.
Di sebuah ruang yang tak jauh dari keasingan tadi, dua mulut sedang beradu melanjutkan negosiasi yang belum mencapai titik akhirnya. Suasana ruangnya sedikit remang. Lampu kecil tahun lalu tak cukup menerawang wajah mereka. Bahkan emosi bisa berubah seketika. Tak ada yang tahu permainan hati. Pembicaraan berlanjut.
“Pak jangan terlalu keras pada anak. Itu bukan didikan yang baik”
“Bapak gagal Bu menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak sudah gagal mendidik anak sesuai yang Allah harapkan. Bapak tak mampu memenuhi keinginan mereka. Apa yang mesti bapak perbuat lagi, Bu? Butuh berapa kali lagi Bapak adukan hati ini pada-Nya?”
“Bapak tak gagal. Bapak sukses. Ini hanya masalah nasib. Tapi kita juga tak bisa menyalahkan nasib. Nasib itu dari Allah. Dan Allah percaya kepada kita Pak untuk mendidik mereka dengan baik. Mendidik anak kita dengan agama. Langkah bapak sudah benar”
“Ibu setuju Ipul mondok?”
“Berilah penjelasan kepada Ipul dengan sabar”
“Ya Bu. Semoga Ipul tahu maksud Bapak”
Waktu terus berjalan dan berjalan terus!
Pergulatan malam yang panjang sudah berakhir. Angin hanya beberapa kali mencumbui dedaunan dan akhirnya lenyap sudah. Kini waktu telah berganti. Sunyi tak lagi menguasai dan senyap tak lagi merasuk dalam mimpi. Di ufuk timur sana sang empunya pagi sudah tersenyum lebar menyapa alam yang permai. Tanpa kesunyian. Kini waktu terbuka baru. Dan hangat nurnya mencairkan luka. Pengobat keganasan angin malam tadi.
Di halaman depan terlihat lelaki setengah baya yang semalam sedang bergulat dengan  hati, kini dia asyik dengan peralatan ladangnya. Sesekali dicobanya pada tanah rerumputan di depanya.
“Pak ngopi dulu!”
Terdengar sang istri menyuguhkan minuman untuk melepas kepergianya ke ladang. Lelaki setengah baya itu pun membalas dengan senyum simpul. Di taruhnya peralatan yang setiap pagi setia menemaninya berladang. Dan perlahan dihampirinya suguhan istri tercintanya. Kopi pun siap mengisi tenggorokkanya.
“Alhamdulillah. Ibu memang mengerti selera Bapak. Andai anak-anak kita tahu, Bu!”
“Sudahlah, Pak! Ayo dihabiskan kopinya, Pak!”
“Ipul mau pak”
Sekejap sesosok Ipul menyelinap di tengah-tengah mereka.
“Pak Ipul sudah pertimbangkan keputusan semalam. Akhirnya Ipul sadar pendidikan agama lebih penting untuk Ipul Pak. Penting untuk kedepanya kehidupan Ipul. Ipul juga sadar Bapak dan Ibu berharap pada Ipul sepenuhnya. Dan Bapak tak gagal menjadi pemimpin di rumah ini. Bapak telah sukses”
Mereka terbengong-bengong mendengar keputusan Ipul untuk pergi ke pondok. Lelaki setengah baya itu seketika meletakan cangkir kopinya. Dan mengarahkan langkahnya menuju tubuh Ipul. Senyum tampak menghiasi wajahnya yang semakin dipenuhi guratan.
“Bapak senang mendengar itu, Pul. Maaf Bapak tak mampu mewujudkan cita-citamu. Tapi Bapak berharap kau bisa mewujudkan cita-citamu kelak setelah dari pondok. Ya ‘kan. Bu?”
“Ya pak. Ibu juga bangga pada mu Pul”
“Justru Ipul bangga pada Bapak dan Ibu. Bapak dan Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk Ipul. Dan Ipul akan mewujudkan cita-cita Bapak dan Ibu, supaya Ipul menjadi orang sholeh. Semoga Ipul menjadi orang yang berguna kelak untuk keluarga dan semuanya”
“Amin”
Waktu akan terus berjalan dan berjalan terus! Dan hari tak akan sepi untuk ilmu yang Dia ridhoi.
……………………………………………………………………..







22.29, 2 Juni 2010
Radindra Rahman

Kupu dan Burung di Langit Sana (Mahkota Perawan)



 

Lihatlah kupu dan burung di langit sana
Saling mengitari taman-saling berdampingan
Angin sunyi tak berani mengusik kemesraan mereka
Matahari rela padamkan nurnya seketika
Langit cerah menaungi kasih mereka
Tak ingin berpaling pada keindahan lain
Di pojok sana
Lihatlah sayang, lihat!
Yang aku ingin dahulu seperti mereka
Kita saling cinta-saling setia
Dan jangan kau lepaskan burung itu kelain sarang
Cukuplah dan cukuplah!
Hanya berdua kita rajut kasih
Yang indah
Kasih yang Dia ridhoi
Kita ikrarkan cinta ini kelak
Kala Dia pertanyakan:
Ketulusan, kesetian, dan kepastian
Dari cinta
Kita berdua
Dan mahkota perawan masih utuh pada wadahnya
Pada ikrar yang akan aku serahkan
Nantinya

Lihatlah kupu dan burung di langit sana
Akhirnya kandas karna waktu juga.












14.10, 29 Mei 2010
Radindra Rahman

Perempuan Penjual Dawet



Namanya Kana, seorang janda yang kini hidup dengan kedua anaknya. Dia menjanda sudah sekitar lima tahun. Kini dia harus berperan menjadi orang tua tunggal untuk kedua anaknya. Namun, kegigihannya membuat perempuan yang satu ini menjadi perempuan yang tangguh dalam menjalani kehidupan. Apalagi harus menghidupi kedua anaknya seorang diri.
Kepergian sang suami -karena penyakit liver- sungguh membuat hati perempuan yang akrab disapa Kana ini jelas terpukul. Istri mana yang rela menerima kepergian sang suami yang dicintainya dengan begitu cepat? Yang sudah mengarungi kehidupan rumah tangga bertahun-tahun demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Seakan airmata itu tidak bisa menetes membasahi pipinya. Kesedihan itu seolah tertahan dalam hatinya. Hanya dia yang tahu betapa hancur dan terpukul hatinya waktu itu. Dia mencoba ikhlas akan takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Mungkin dia bisa mencoba mengikhlaskan kepergian sang suami walau dengan berat hati. Tapi bagaimana dengan perasaan anak-anaknya? Di usia mereka yang masih belasan tahun, yang masih membutuhkan sesosok kedua orang tua, kepergian sang ayah sungguh membuat mereka harus kehilangan kasih sayang dari sosok seorang ayah.
Semenjak kepergian sang suami, Kana-lah yang harus menggantikan perjuangannya. Ya, apalagi kalau bukan untuk berjualan dawet. Semua itu, dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya, dan mencurahkan kasih sayang lewat tetes peluhnya. Setiap pagi menjelang shubuh, dia harus segera bersiap-siap untuk menyiapkan segalanya. Baik menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, mengerjakan pekerjaan rumah maupun membuat dawet hingga menatanya di gerobak yang kini menjadi tempat aduannya. Gerobak kayu warna hijau yang menjadi peninggalan terakhir dari sang suami. Gerobak yang dulu menjadi saksi bisu betapa gigihnya sang suami dalam mencari nafkah untuk dia dan kedua anaknya. Namun, semua itu telah menjadi kenangan masa lalunya. Kini dialah yang harus menggantikan posisi suaminya untuk menghidupi kedua anaknya.
Setiap pagi, Kana harus mendorong gerobak dawet itu menuju pasar yang berjarak sekitar ratusan meter dari rumahnya. Sungguh jarak yang terbilang fantastis untuk ukuran perempuan setengah baya seperti dirinya. Apalagi ukuran tubuhnya yang kecil dan memang saat itu dia sedang menderita penyakit ambien. Bisa dibayangkan bagi penderita ambien yang melakukan pekerjaan seperti itu. Mungkin akan memperparah kondisinya. Tapi bagi Kana hal itu tidak mungkin dia eluh-eluhkan, karena semua itu dia lakukan hanya untuk menghidupi kedua anaknya. Hanya dia seorang yang kini menjadi tumpuan harapan untuk masa depan anak-anaknya kelak. Ya, sebagai orang tua tunggal yang posisinya harus menjadi ayah dan sekaligus ibu untuk mereka.
Bertahun-tahun dia berdagang dawet di pasar dan terkadang di sekitar rumahnya. Memang penghasilannya dari berjualan dawet tidak seberapa. Apalagi jika kondisinya lagi sepi. Bahkan tidak bisa mengembalikan modal untuk berjualan besok. Penghasilannya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Baik kebutuhan sehari-hari maupun biaya pendidikan kedua anaknya. Namun, dia tidak berputus asa begitu saja. Dia sadar rezeki sudah ada yang mengatur. Dia akan terus berusaha mencari nafkah untuk kedua anaknya.
Jika menilik dari kehidupannya yang dulu, saat suaminya masih hidup, sungguh sangat memperihatinkan kondisi keluarganya. Bagaimana tidak, hidup di rumah yang dulu masih terbilang kecil dan sederhana. Bahkan genting dan papannya yang sudah tidak layak pakai. Ruang-ruang yang sempit dan kondisi yang serba pas-pasan. Membuat dia dan keluarganya hanya bisa sabar dan terus berusaha untuk memperbaiki keadaan hidup. Mungkin dalam benaknya, dia juga ingin memiliki rumah yang layak seperti tetangga-tetangganya. Yang notabenenya serba kecukupan. Namun, perjuangan yang tidak ada hentinya membuat perubahan dalam hidup mereka. Setidaknya mereka bisa merenovasi rumah untuk kenyamanan anak-anak mereka juga.
Hampir setiap hari, Kana tidak hanya mendorong gerobaknya untuk menjajakan dawetnya. Tapi lebih dari itu, dia juga harus mengurusi pekerjaan rumah. Bertahun-tahun seakan tidak ada rasa mengeluh dalam hatinya dengan berjualan dawet. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang? Mungkin dalam hatinya, dia juga ingin terlepas dari beban hidup yang dirasa sangat kurang dan serba dalam kekurangan. Mungkin dia juga merasa iri saat melihat pasangan keluarga yang hidup utuh. Didampingi sang suami yang bisa diajak bercanda dan mencurahkan keluh-kesah kepenatannya. Sementara, dia masih bergulat dengan hidupnya yang akan terus berjualan dawet. Tapi dia sadar, dia harus terus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Di samping itu, kasih sayang juga harus dia curahkan kepada anaknya. Karena dia sadar, kini tinggal dialah orang tua yang bisa membimbing mereka, memberi pengarahan, dan selalu mengayomi mereka sebagaimana mestinya tugas orang tua. Dia juga tidak ingin kedua anaknya kelak bernasib seperti dia. Harapan itu pun ada, berharap anaknya kelak bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan orang tua.  Betapa tidak berharganya, saat orang tua tidak bisa memberi kebahagiaan kepada anak-anaknya. Mungkin hal itu juga pernah dia rasakan, saat dia tidak bisa memenuhi permintaan anak-anaknya.
Kondisi tubuhnya yang sering sakit-sakitan membuat dia sempat menghentikan berjualannya beberapa hari. Ya, karena penyakit ambiennya kambuh lantaran terlalu sering melakukan pekerjaan yang berat. Terkadang untuk menghemat tenaga, dia berinisiatif untuk berjualan dawet di rumah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah kondisi badannya sudah dirasa enakkan, dia lekas melakukan aktivitasnya untuk berjualan dawet di pasar. Dari kegigihannya bekerja keraslah, sampai akhirnya dia bisa membuka warung kecil-kecilan di rumah. Memang dari awal berjualan hanya sedikit barang yang dijual. Hanya sekadar minuman dan makanan ringan untuk tetangga-tetangganya. Tapi lambat laun, usahanya pun mengalami peningkatan yang cukup baik. Hingga sampai sekarang dia bisa memenuhi warungnya dengan beragam jajanan dan kebutuhan dapur untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya.
Itulah sedikit kisah yang bisa saya bagikan kepada Anda dari kisah seorang perempuan penjual dawet, Kana. Dengan kegigihan dan kesabarannyalah, kini dia bisa menikmati jerih payah kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Walaupun dia hidup sebagai seorang janda, hal itu tidak menyurutkan semangat hidupnya. Karena kehidupan yang terbaik adalah kita bisa menjalaninya dengan rasa syukur dan tidak mudah berputus asa.